Politisi Perempuan dan Internet

Diawali dengan peluncuran satelit  pada tahun 1957, maka perkembangan teknologi internet  berjalan  pesat.  Ledakan teknologi komunikasi  telah menyebabkan percakapan di dunia maya riuh. Demokrasi membuka chanel untuk menyampaikan pendapat secara terbuka di berbagai aplikasi obrolan dunia maya.

Internet digunakan untuk berbagai hal. Mulai dari iklan, kampanye politik hingga menggiring keinginan masyarakat untuk sesuatu hal. Bahkan face book, Whats App , twitter dan lainnya digunakan untuk perang mulut, tidak saja antar politisi tapi juga masuk ke  ruang keluarga.  Para politisi  sibuk mencari kesalahan-kesalahan lawan politiknya. Sementara  dalam keluarga dan terjadi perang mulut dan muncul wajah-wajah dingin.

Sekalipun teknologi  komunikasi telah demikian maju, berita di dunia maya demikian padat dan sesak, tetapi masih sedikit perempuan politik yang mengakses internet untuk mengkampanyekan diri, membangun jejaring sosial agar dapat menduduki posisi sebagai anggota legislatif. Walaupun  ada  ketetapan   affirmative action, ( kuota 30% untuk perempuan sejak Pemilu legislatif  2009) , namun perempuan tidak pernah berhasil meraih 30 % kuota tersebut.

Menelisik  penelitian yang pernah dilakukan,  perempuan yang mampu meraih kursi pada Pemilu legislatif  adalah perempuan yang secara ekonomi kuat, memiliki hubungan kekeluargaan dengan pimpinan partai politik  atau hubungan dekat dengan pejabat tinggi di pemerintahan.  Sehubungan ini, maka  ada yang menafsirkan bahwa perempuan – perempuan ini   masuk parlemen hanya mencari ruang bagi ekspresi diri sendiri, belum didorong oleh perjuangan untuk  meningkatkan pemberdayaan perempuan.

Membaca kondisi ini, terpaksa  kita mengulang- ulang alasan usang,  bahwa perbedaan perempuan dan laki -laki hanyalah  perbedaan biologis bukan fungsi sosial-politik. Selama ini budaya bahkan tafsir agama dibangun oleh laki-laki, maka norma dan peraturan disusun berdasarkan kepentingan laki-laki. Perempuan diposisikan sebagai bagian dari laki-laki bukan merupakan mitra sejajar. Peran perempuan belum optimal, bahkan sering terdiskriminasi.

Memang tidak mudah membangun kesadaran kritis dan menggalang kekuatan kolektif untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender.  Kesetaraan dan keadilan gender yang  merupakan agenda utama feminisme sulit diperjuangkan  karena hambatan budaya dan penafsiran keagamaan. Disamping itu,  masih banyak  politisi perempuan yang konservatif mengusung pandangan yang menolak perjuangan feminisme, kesetaraan dan keadilan gender.

Dalam pemilu legislatif  2019, fokus perempuan adalah mengoptimalkan peran politiknya.  Dengan kemajuan teknologi  komunikasi internet, sesungguhnya peran politik perempuan dapat lebih dioptimalkan.  Dengan teknologi digital, konsep ruang dan waktu  berubah. Pemilih bisa dijangkau melalui perangkat internet seperti  Website, facebook, twitter, blog dan lain-lainnya. Jejaring sosial dapat diperluas dalam waktu yang singkat. Apalagi sekarang ini,  perkawinan Ponsel dan internet, yang disebut sebagai era komunikasi 4.0,  satu orang dapat menjangkau  banyak orang di berbagai tempat . Perempuan politik, melalui internet dapat membangun komunitas di dunia maya dan dapat menyampaikan gagasan –gagasan politiknya untuk dipahami masyarakat,  yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterwakilan perempuan di Parlemen.

Perempuan masuk parlemen ( legislator)  tidak hanya dapat  dilihat sebagai bagian dari pemberdayaan  perempuan dan kesetaraan gender, tetapi juga memanggul misi suci yaitu   memperbaiki moral dan etika politik bangsa ini.   Kehidupan Politik kita  dewasa ini hanyalah urusan pergulatan para elit dalam mempertahankan kekuasaannya, sehingga berbagai kinerja politik yang tidak santun dan penuh manipulasi menguap kepermukaan. Menjalankan politik dengan penipuan, kebohongan, fitnah  dan ujaran kebencian telah mejadi hal biasa.  Berbagai rekayasa  dilakukan untuk mencapai hasil yang ditargetkan.

Sekarang ini politisi banyak yang bersikap  munafik dan pembohong. Secara moral, munafik dan berbohong adalah sikap negative yang bermuara pada kerusakan sendi-sendi keadilan. Disamping itu, sikap bohong akan membuat masyarakat bingung, karena mana fakta, mana fiktif  sulit dibedakan. Khabar kabur berseliweran dalam masyarakat.  Apa lagi  dalam  era branding ini, politisi  berebut mengejar citra,  berbagai fakta  didramatisasi  agar tampak menyentuh, walaupun menabrak tembok-tembok  logika dan menghancurkan Social trust.

Politisi Perempuan  harus menyadari kondisi ini. Kehidupan   politik  sangat   kompetitif.   Menghadapi dunia yang kompetitif ini perempuan haruslah melakukan penguatan diri baik secara personal maupun secara kelompok. Untuk penguatan diri perempuan,  teknologi komunikasi internet   dapat  memberi berbagai kemudahan.  Politisi  Perempuan   dapat membangun komunitas di dunia maya dan dapat menyampaikan gagasan – gagasan politiknya, dengan  konten dan strategi  yang tepat  agar dapat dipahami masyarakat.