PERNIKAHAN

Assalamualaikum Wr.Wb.

Kita ketemu lagi di

BERANDA PEREMPUAN

Ngobrol santai sambil ngupi, bukan menggurui, bukan solusi tapi berbagi dan menyalurkan aspirasi

Kali ini kita ngobrol  tentang pernikahan.

Beranda Perempuan membawa obrolan tentang masalah kehidupan terutama tentang perempuan.

Pernikahan fenomena manusiawi

Yang di dalamnya banyak misteri.

          Di Beranda Perempuan ada Santi. Ibu muda, ibu milenial.  

Santi  duduk termenung. Wajahnya  terlihat murung.  Airmatanya masih menggantung. Dia sedang  bingung. Dia bingung  memikirkan kehidupan rumah tangganya. Di awalnya pernikahan, hubungan  Santi dan  suaminya  baik baik saja. Tapi belum cukup setahun, mereka  mulai sering bertengkar. Kadang-kadang hanya  pertengkaran tidak berarti.

Mari kita dengar, apa kata  Santi.   

“ Aku dilihatnya  seperti perempuan masa lalu. Perempuan dulu harus memberi hati pada suami. Suami pulang kerja,  disambut, di bawa duduk dan dibukakan sepatunya. Itu dipandang sebagai tanda cinta kasih dan setia.

“ Perempuan milenial tidak lagi mau terkungkung dalam kerja domestik, mengurus anak, mengurus suami. Perempuan tak mau lagi  ditawan dirumah,  dipandang sebagai barang simpanan”.

Kami berbeda pandangan. Kalau aku ingin  pergi, dia  tidak sempat menemaniku, kenapa tidak boleh jalan sendiri ?  Kalau laki laki  boleh keluar sendiri,  kenapa perempuan  tidak. Emangnya perempuan penjaga rumah, menunggu suami pulang. Hidupku  seperti   pohon meranggas. Hidup segan mati tak mau”. Santi mengakhiri curhatnya sambil menghela nafas. 

Apa yang ada dalam pikiran Dono, suami Santi ?

Dono pernah juga mampir ke Beranda Perempuan dan menyampaikan keluhannya.

“Isteriku sering bertingkah yang menimbulkan amarah.  Dia  selalu  mengabaikan hal-hal penting buatku.  Banyak perangainya  yang membebaniku hingga membuat  hati ku tawar.

Dia  pergi keluar rumah tanpa izinku. Kalau pulang terlihat mukanya seperti   menantang dan seolah-olah menunggu pertanyaanku,  “ kemana kamu pergi”.

Bila diajak ngobrol dan berdiskusi , tak lebih dari 5 menit bercakap-cakap, perbantahan datang. Kata-katanya menggusik perasaan. Isteriku tidak  ramah, tidak pandai bergurau dan bercumbu. Isteriku perempuan  perengut. Kata Dono penuh kesal.

Katanya,  mengharapkan cinta, lanjut Dono. Ingin dipuji dan dimanja  sebagai isteri  tersayang. Tapi ketika kupuji dan kumanjakan, sikapnya dingin saja. Bila aku yang  bersikap dingin,  dia  ngomel, lalu pergi sesuka hatinya”.

Kondisi di atas masih banyak terjadi dalam masyarakat kita.   Pasangan seperti Santi dan Dono, banyak dialami pasangan muda era milenial.   Mereka  tidak bisa saling memahami. Santi merasa ditawan dirumah. Dia merasa sebagai barang simpanan. Dono  merasa dibebani oleh sikap isterinya  yang kekanak kanakan. Isterinya sering bertingkah yang menimbulkan amarah dan selalu  mengabaikan hal-hal penting buatnya.

Pernikahan itu pertemuan dua orang dewasa. Kita perlu pahami bahwa ada berbagai perbedaan diantara pasangan  :

Bisa perbedaan usia, pendidikan, hobi, sifat, latar belakang,pola pikir dan tingkat kedewasaan.

Pernikahan  menyatukan pikiran dan bersama mencapai suatu tujuan. Ternyata tidak mudah. Tapi  jangan cepat menyerah, harus berjuang semaksimal mungkin. Masa depan itu mengandung harapan. Berbagai kemungkinan bisa datang.

Sampai disini    percakapan kita,  

Beranda Perempuan akan muncul lagi dengan tema yang lain.

Assalamualaikum  Wr. Wb.