PELAKOR

ASSALAMUALAIKUM WR. WB.

BERANDA PEREMPUAN

NGOBROL SANTAI,  SAMBIL NGUPI

BUKAN  MENGGURUI, BUKAN SOUSI

HANYA MENYALURKAN ASPIRASI

 Beranda Perempuan pernah kedatangan seorang tamu, seorang perempuan setengah baya.  Namanya Widia.

Dia tampak bersedih. Ada lelehan airmata  di ujung mulutnya.

Ketika di sapa  kenapa menangis. Dia terkejut. Cepat dihapusnya air matanya lalu berusaha  tersenyum.

“Aku  ingin curhat  mbak”,  katanya sendu.

 “Aku   ditindih perasaan berdosa setiap waktu. Aku  telah meruntuhkan kebahagian orang lain. Aku pelakor, perebut laki orang “, kata Widia  sembari menarik  nafas seperti seperti sebuah sesalan.

“ Pasti sakit dan memang sakit kurebut suaminya”

“ Pasti marah dan sangat marah kurebut kasih sayang suaminya”

“ Kini aku tobat. Mudah2an tidak terlambat”. Widia berkata terbata bata,sambil mengusap matanya  yang mulai kembali berlinang.

Widia  terus mencurahkan perasannya dan menceritakan pengalaman hidupnya. Dia  ingin didengar, didengar   keluhan jiwanya.

 Kadang-kadang  orang hanya perlu didengar tidak perlu solusi. Curhat itu merupakan outlet untuk menenangkan jiwa.

Widia berkisah ………………………

Setelah menikah dia tetap terus bekerja. Dia tak mau meninggalkan pekerjaannya, agar dia punya uang sendiri dan tidak bosan dirumah saja.

Kehidupan tak pernah ramah pada Widia. Dia menjadi janda kembang ketika umur pernikahannya belum menginjak lima tahun. Suaminya meninggal karena suatu tabrakan. Setelah itu, dia tinggal sendiri, perkawinanya tidak menghasilkan seorang  anakpun. Dia berusaha tetap menjaga hidup yang  sehat ………

 Sehat fisik, sehat jiwa dan sehat finansial.

Suatu hari Widia mendapat pesan dari seorang teman,  namanya  Hendrik. Hendrik laki-laki  tampan, teman  kuliah Widia dulu. Hendrik  ingin menemuinya. Seketika darah Widia  berdebar, takut CLBK,  cinta lama bersemi kembali.

Pertemuan pertama,disusul pertemuan-pertemuan berikutnya. Mereka pacaran kembali.  Hendrik sudah menikah dan punya anak. CLBK menjadi kenyataan. Ketika  hubungan mereka sampai  ke teliga isteri Hendrik, terjadi perang dunia. Widia terkapar  dan  kalah.

Lalu  Widia  tobat. Dilemparkannya kehidupan duniawi. Dijualnya semua harta bendanya dan dia pergi meninggalkan kotanya. Hidup menyendiri di sebuah dusun. Disana dia tinggal di sebuah rumah kontrakan. Dia  berserah diri pada Tuhan dan menyediakan diri untuk kebaikan. Diajaknya manusia di sekelilingnya hidup dalam rukun damai. Kalau ada rumah tangga yang cekcok, dia ikut menyelesaikannya. Dia bahagia melihat rumah tangga bahagia, karena dia tahu betul arti kebahagian rumah tangga.

Sampai disini, kisah Widia kita akhiri.

Beranda Perempuan akan muncul lagi dengan tema yang lain.

Assalamualaikum  Wr. Wb.