Nenek Moyangku Orang Pelaut, Laut Nusantara mau dicaplok orang

Peristiwa ngeri itu terbawa tidur dan selalu teringat dikala bangun di pagi hari.  Ombak-ombak besar berpacu indah berurutan. Pertemuan  ombak-ombak besar, saling beradu, meluluh lantahkan kami satu sama lain. Ombak sanggup menelan apapun yang disentuhnya. 

Suatu peristiwa mengerikan  masih menghuni  ingatannya. Dia dan dua temannya tenggelam ditelan ombak raksasa setinggi 2 meter dan  masuk ke perut bumi,  teraduk – aduk di dalamnya.

Beberapa menit pertama dia panik. Mulutnya meminum banyak air hingga paru – paru dan tenggorokan panas seperti terbakar. Kaki dan tangannya menghempas – hempas meraih apapun yang mampu diraih. Dia berharap ada yang mau mewujud menjadi penolong untuk menariknya keluar. Matanya masih mengerjap – ngerjap pedih, lebih banyak tertutup karena pedih dan  takut. Dia  bergerak, meronta – ronta. Ketika  sadar tidak ada bumi untuk dipijak, dia berhenti menghentakkan kakinya.

Dia tidak tahu apa yang harus  dilakukan. Ketika  matanya mulai bisa dibuka lebar di dalam air, dibawah  sangat gelap. Dia tidak berani menatap ke bawah. Melihat ke bawah hanya akan membuat asam lambung di perut semakin deras. Dia diam, tak mampu bergerak. Dia berhenti menghentakan kaki. Akan sia-sia  hanya menguras tenaga. Lalu, dia melenturkan badan, menyerahkan pada Sang Pemiliknya. Lalu menari bersama lantunan arus air laut. Dia tidak peduli lagi tentang hidup dan mati. Dia  menikmati rasa aman dan nyaman berselimut air laut. “seperti dirahim bunda”, bisiknya.

Dia terus menari bersama lantunan air. Tubuhnya  meliuk – liuk, naik – turun ke atas dan ke bawah.  Arus air laut mau membawanya entah kemana. Tiba-tiba dia menyadari bahwa  bahu kirinya bersisian   dengan dinding terumbu.

 “apakah ini ujung daratan. Seperti pondasi pada rumah – rumah?”, dia berpikir keras. Namun dia  bergidik, insting di perut berkata untuk tidak mendekat. Dia menyadari bahu sebelah kanannya bersisian dengan air yang semakin lama dipandang semakin pekat warnanya.

“ oh, belum, belum saatnya ”, katanya membatin.

“ aku harus kuat, harus  kembali ke kapasitas diri”, bisiknya sambil menguak pekatnya air laut.  

Pagi itu, dia kembali termenung, kembali teringat peristiwa yang mengerikan itu. Dia telah mempertaruhkan nyawa. Awalnya hanya ingin mencebur ke laut, merasakan hangatnya air dan didorong keingintahuan tentang laut. Tapi dia  tenggelam, menyelam ke kedalaman air.  Pengalamannya tentang laut, belum cukup untuk menyelami luasnya samudera. Keberanian saja tidak cukup, apalagi  sekedar penasaran. Mata boleh memandang jauh ke depan, tapi perlu  kelapangan hati untuk menyerah.

Keingintahuan rahasia laut sering mengebu. Laut selalu bisa mengerti. Laut selalu bisa menunggu tanpa bergeming, karena itulah keahliannya. Laut menerima dan menelan segala hal yang dilontarkan padanya, tanpa pernah menuntut. Laut  membentang luas tidak menghalangi penglihatan, bahkan menampakkan horizon yang seolah-olah mudah digapai. Laut selalu menunggu si pemberani datang dan mampu bertahan hidup di tengah kedalamannya yang tak berdasar dan luasnya tidak bertepi.

“ Nenek moyangku orang pelaut”. Nyanyian itu tidak pernah terdengar lagi. Selama beratus tahun Sriwijaya dan Majapahit telah menjaga dan memanfaatkan laut, laut Nusantara. Laut  telah dijadikan urat nadi transportasi dan perdagangan maritim. Tapi kemudian tradisi maritim ini lenyap.  Orang berpaling dari laut dan menoleh daratan. Tidak ada lagi mabuk lautan, tapi mabuk daratan. Lagu “nenek moyangku orang pelaut” tidak dikenal lagi oleh generasi sekarang.  Laut Nusantara mau dicaplok orang.