Membaca legenda Minangkabau “Sabai Nan Haluih” Dengan Ketangkasan Hermeneutik

Cerita rakyat di Minangkabau  disebut kaba.  Kaba adalah genre sastra tradisional Minangkabau berupa prosa. Kaba atau cerita   disampaikan secara lisan biasanya  didendangkan oleh tukang kaba. Melantunkan kaba dibantu oleh sebuah alat musik disebut rebab. Bentuk kaba bisa  berupa pantun lepas maupun pantun berkait disertai ungkapan pepatah-petitih, mamangan, pameo,  dan kiasan. Kaba berfungsi untuk menyampaikan cerita atau amanat. Biasanya tokoh dalam kaba tidak jelas. Nama  nama tokohnya  cenderung bersifat simbolik.

Kaba lebih banyak  berkisah tentang raja atau anak raja,seperti kaba Cindua Mato, Kaba si Untuang Sudah, Kaba Magek Manandin, Kaba Malin Deman, Kaba Rambun Pamenan, dan kaba Sabai Nan Haluih.

Membaca ulang kaba Minang sesuai kontek zaman sekarang dan ketangkasan hermeneutik maka terlihat berbagai tradisi dan pemahaman agama yang diajarkan, banyak yang tidak sesuai lagi  dengan perkembangan masyarakat. Ada ketentuan tradisi dan doktrin agama yang menjajah akal sehat. Ada relasi gender yang tidak sesuai konteks zaman.

 Membaca ulang kaba “ Sabai Nan Haluih” dengan ketangkasan hermeneutik, terlihat bahwa ketidakadilan gender dalam masyarakat Minang dengan nyaman berlindung dibalik ajaran adat dan agama. Sekalipun Minangkabau terkenal memiliki hukum kekerabatan matrilinial, tapi relasi gender yang timpang dan tidak adil tetap mewarnai kehidupan sosial.

Hermeneutika adalah teori  menafsirkan sebuah teks. Ada juga yang mengatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu atau seni memahami sebuah teks. Memahami makna teks dengan ketangkasan hermeneutika akan mempengaruhi cara pandang terhadap konten teks. Membaca legenda “Sabai Nan Haluih” secara hermeneutika yang berpihak kepada keadilan gender, akan terlihat  bahwa ada tradisi dan pemahaman agama yang diajarkan merugikan perempuan.  Dan tentu saja tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat.   

Sabai Nan Aluih adalah nama anak perempuan. Ayahnya  Rajo Babanding dan ibunya Sadun Saribai. Raja Babanding  merupakan raja di Padang Tarok di daerah Sumatera Barat. Selain Sabai Nan Haluih, Rajo Babading mempunyai anak laki laki bernama Mangkutak Alam. Sepasang keturunan raja ini dibesarkan dalam keluarga secara adat Minangkabau dan agama Islam, sesuai dengan falsafah minang  “ adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”.  

Sabai nan Aluih  seorang gadis cantik. Sejak bayi wajahnya sudah terlihat cantik sekali.  Ketika meningkat remaja, kecantikannya makin nyata.   Dia   berparas cantik dan manis.  Hidungnya  mancung bagai dasun tongga, bibirnya tipis  bagai asam se ulas, matanya seperti bintang kejora, pipinya bagai pauh dilayang, dagunya bagai lebah tergantung. Kupingnya bagai jarek tertahan. Alis mata bagai semut beriring.  Rambut bagai mayang terurai. Demikian, kecantikan Sabai Nan Haluih didendangkan oleh tukang kaba. Penuh  dengan petatah – petitih dan kata-kata bersifat simbolik.

Selain kecantikan diuraikan secara detail, tukang kaba juga menguraikan sifat dan perilaku Sabai Nan Haluih.  Sabai rajin membantu pekerjaan ibunya dan senantiasa mengisi waktu luangnya dengan menenun dan merenda. Sesuai dengan namanya Sabai nan Aluih (Sabai yang  lembut), dia berbudi pekerti luhur, santun dalam berbicara, hormat pada yang tua. Banyak orang menyukainya.

Meskipun dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sama, kedua kakak beradik, Sabai Nan Haluih  dan Mangkutak Alam  mendapat pola asuh berbeda.   Mangkutak seorang pemuda manja. Perlakuan orang tuanya terhadap Mangkutak Alam, berbeda dengan si Sabai. Mengkutak Alam dimanja, dilayani dan selalu dinomorsatukan.

Mangkutak sebagai anak laki-laki dipandang sebagai harapan, penerus generasi, dan sebagai putra mahkota. Mangkutak dipersiapkan menjadi pemimpin ( kecil menjadi anak, sudah besar menjadi mamak). Sementara si Sabai, sebagai anak perempuan selalu dipandang sebagai beban. Sabai tidak diperlakukan setara dengan saudara laki-lakinya. Suaranya tidak pernah didengar dan tidak pernah diajak berunding membuat keputusan. Segala sesuatunya selalu Sabai di nomorduakan.  Tukang kaba  menyampaikan dalam bentuk kiasan perbedaan perlakuan  tidak setara ini  “ kalau makan ikan, daging-dagingnya untuk Mangkutak dan tulang-tulangnya untuk si Sabai “.

Masyarakat Minang dengan ajaran adat dan ajaran agamanya, memposisikan perempuan tidak sederajat  dengan laki-laki. Perempuan dipandang lebih rendah dari laki-laki. Perempuan tidak pantas menjadi pemimpin, baik pemimpin adat maupun pemimpin agama. Perempuan  boleh dipoligami  dan bisa ditalaq dengan sewenang-wenang, karena talaq adalah hak progregatif laki-laki.   Pandangan ini melahirkan berbagai diskriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan dalam kehidupan sosial.   

Kembali ke kaba Sabai Nan Haluih. Kecantikan Sabai nan Aluih terkenal hingga ke kampung lain. Pada suatu hari, berita tentang kencantikannya sampai ke telinga seorang teman  ayahnya,Rajo nan Panjang, seorang saudagar kaya raya. Rajo nan Panjang sangat disegani oleh masyarakat kampungnya, sekalipun dia    tukang rente dan suka memeras warga di sekitarnya.

Rajo nan Panjang mengirim utusannya untuk meminang Sabai nan Aluih. Ia yakin pinangannya diterima karena dia kaya.  Tapi ayah Sabai, Rajo Babanding  menolak pinangan itu, dia tak mau mencelakakan anaknya, mengawinkan anaknya  dengan  orang yang  seumur dengan dirinya.

Mendapat penolakan dari Rajo Babanding, Rajo nan Panjang merasa terhina.  Maka dia datang sendiri meminang kembali Sabai Nan Haluih. Rajo Babanding tetap menolak. Disamping dia tak mau anaknya dipersunting orang setua dirinya, dia juga menyadari bahwa Rajo Nan Panjang melanggar adat. Menurut adat Minangkabau pinangan tidak boleh disampaikan langsung kepada ayah si gadis, melainkan kepada mamak atau saudara kandung laki-laki dari ibu gadis itu.

 Dalam kekerabatan Minang, saudara laki-laki ibu adalah mamak yang berfungsi sebagai pemimpin keluarga. Pinangan, pernikahan dan hal-hal penting dalam keluarga ditentukan oleh mamak. Pinangan terhadap seorang gadis disampaikan langsung kepada mamak, bukan pada  orang tuanya.  Pinangan diterima atau ditolak juga ditentukan mamak. Keputusan mamak tidak bisa ditolak oleh orang tua si gadis apalagi penolakan dari gadis itu sendiri.   Sekiranya Sabai dilamar langsung ke mamaknya, mungkin saja Sabai bersuamikan orang seumur ayahnya itu.  Mamak sering mengabaikan nasib si gadis yang dilamar, yang penting ada uangnya

Lanjut ke kaba Sabai Nan Haluih, Rajo Babanding tidak langsung  menolak pinangan terhadap anak gadisnya, karena dia yakin Rajo nan Panjang akan marah dan mengamuk. Rajo Babanding mengajak Rajo nan Panjang untuk berunding di luar rumah. Mereka berunding di Padang Panahunan. Rajo nan Panjang sudah memahami bahwa pinangannya ditolak, dan penyelesaiannya adalah perang (berkelahi).

Padang Panahunan adalah tempat yang sepi dan sejak dulu digunakan untuk berkelahi. Rajo Babanding membawa seorang pembantunya yang bernama Palimo Parang Tagok. Ia mengajak pembantunya itu untuk berjaga-jaga jika Rajo nan Panjang berbuat curang. Seandainya pun ia terbunuh dalam pertarungan tersebut, setidaknya Palimo Parang Tagok dapat memberi kabar kepada keluarganya.

Sampai di padang Panahunan, mereka berkelahi. Raja Babanding  dikeroyok oleh anak buah Rajo nan Panjang dan ditembak dari belakang.  Rajo Babanding terkapar. Pada saat itu, ada seorang gembala yang menyaksikan peristiwa itu dan segera memberitahukan peristiwa itu kepada keluarga Raja Babanding.

Sabai Nan Haluih tersentak kaget, lalu memanggil adiknya  Mangkutak Alam dan mengajak  ke Padang Panahunan melihat ayahnya yang terkapar karena tembakan.  Tapi pemuda manja Mangkutak Alam tidak menghiraukan ajakan Sabai dan mengatakan bahwa dia takut mati karena dia sedang bertunangan.

Dengan perasaan kesal atas kepengecutan adiknya, Sabai  berlari menuju ke Padang Panahunan dengan membawa senapan ayahnya. Ketika ketemu dengan   Rajo nan Panjang dalam perjalanan ke Padang Panahunan Sabai dengan muka memerah menanyakan keberadaan ayahnya. Raja nan Panjang menggodanya dengan mengatakan dia tambah cantik kalau lagi marah. .Sabai nan Aluih bertambah marah  ketika disampaikan bahwa ayahnya tertembak dalam perkelahan. Sabai mengarahkan senapannya ke dada saudagar kaya yang sombong itu. Rajo nan Panjang terbahak-bahak dan mengejek Sabai nan Aluih dengan mengatakan bahwa  dia perempuan, senapan bukan mainan anak perempuan dan perempuan tidak bisa pegang senapan.

Sabai nan Aluih bertambah marah mendengar hinaan itu, lalu  menarik pelatuk senapannya. Terdengarlah suara dentaman yang sangat keras. Seketika itu pula, Rajo nan Panjang terjatuh ke tanah, peluru menembus dadanya. Sabai nan Aluih segera menuju ke Padang Panahunan untuk melihat keadaan ayahnya. Rajo Babanding sudah tidak bernyawa lagi.

Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan moral, bahwa meremehkan perempuan bukanlah moral yang baik. Perempuan juga memiliki  keberanian membela kebenaran.  Bahkan terlihat perempuan lebih bertanggungjawab terhadap keluarganya. Seperti yang diperlihatkan dalam kaba Sabai Nan Haluih, Mankutak Alam, adik laki-lakinya yang diharap  menjadi pemimpin dan pembela, ternyata tumbuh menjadi laki-laki pengecut dan dan tak bertanggungjawab.    

Dalam masyarakat Minang  masih kuat anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kemanusiaan perempuan dipandang tidak utuh dan eksistensi perempuan hanya melengkapi dan melayani laki-laki. Anggapan ini mengakibatkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan ketidakadilan yang disebut dengan ketidakadilan gender.

Dalam kaba Sabai Nan Haluih, terlihat pola asuh  remaja yang memperlakukan   anak laki-laki dan perempuan secara berbeda.  Anak laki-laki dimanja dan diistimewakan sehingga lambat dewasa dan lambat bisa bertanggungjawab. Sementara anak perempuan yang diperlakukan berbeda dengan saudara laki-lakinya,ternyata menjadikannya cepat dewasa. Dalam kaba Sabai Nan Haluih, gadis ini tampil menjadi pembela dan  bisa memegang senjata menembak musuh ayahnya. Tentu saja kaba Sabai Nan Haluih merupakan fenomena masyarakat yang berakar dari tradisi yang ada.