L A T A H

Latah  bisa diartikan  sebagai suka tiru-tiru, bukan inovator. Orang Padang menyebutnya  seperti  pantun dibawah ini :

Banda urang denai bandakan

Banda menuju ke muaro

Kaba  orang denai kabakan

Urang baduto denai tak sato.

Ada  orang menganggap dirinya tidak hebat kalau tidak bersuara dan bersikap kritis.

“ Aku membuat postingan, berarti aku ada”.  Lalu komentar orang yang di copy paste.

 Hal ini terlihat pada  tulisan di media sosial, baik Facebook,  WhatsApp Group (WAG) dan lainnya.  Media sosial untuk para pelatah ini sangat sempurna. Mereka tidak punya gagasan, hanya punya kebisaan click and share alias copy paste.  

Bangsa kita ini  dari era pertanian meloncat  era sosial media tanpa melewati periodisasi industri. Sifat generik  latah tetap melekat. Sebagai bangsa yang latah, kini  hoax dan desas-desus dapat dilihat sebagai alat pelestarinya.  Konon, di lingkungan bangsa dengan peradaban rendah,  latah adalah cara manusia bertahan hidup.

Dalam konteks ini, banyak orang gagal untuk memahami apa yang disebut Omnimbus Law. RUU ini didemo sedemikian rupa hingga terjadi amuk massa dimana-mana . Padahal ada seribu satu cara melakukan protes secara beradab dan cerdas. Apa lacur, penyebabnya sederhana, ya karena latah,  Ikut-ikutan, hanya karena dorongan solidaritas, solidritas spontan.  Dalam kasus demonstrasi pada  hari-hari belakangan ini, disamping solidaritas spontan,  jelas karena sponsor dan bayarannya. Ada kelompok  yang  membayar orang untuk mengamuk.

Kalau dulu ada lagu: “ Kejarlah aku kau kutangkap”

Kini, “ merusaklah maka kau kubayar!”.