KEKERASAN TERHADAP ANAK

Hidup itu sebuah perjalanan, lahir, menikah dan mati. Setelah tua,semua hilang, karir, sosial activiti dan lainnya. Yang tersisa adalah anak.

Kita akan berbincang tentang anak, bukan tentang pengasuhan dan bukan tentang memotivasi anak. Perbincangan ini mengenai kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak merupakan tindak pidana.

Perbincangan ini kita awali  dengan sebuah cerita. 

Nani anak yatim piatu sembilan tahun. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah tabrakan mobil. Dia dipelihara oleh Rasiah Tantenya, adik perempuan dari bapaknya sebagai pengganti orang tuanya. Rasiah pembuat kue dan Nani disuruh untuk menjualkannya. Bila dagangannya bersisa, Nani dipukulin.

Pekik dan raungan Nani meminta ampun terdengar hampir tiap hari.Tangisannya menyanyat hati. Disela-sela tangisan itu terdengar makian-makian. Makian itu bukan main seramnya, menegakkan bulu roma. Memang Rasiah, Tante Nani seorang ibu yang kejam.

Sesungguhnya, banyak anak-anak di luar sana yang senasib dengan Nani. Banyak fenomena yang gampang dibaca mengenai kekerasan terhadap anak . Anak yang sesungguhnya masih belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi kerap dianggap anak nakal dan membangkang. Orang tua yang tidak memiliki pemahaman yang baik tentang fase perkembangan anak menyikapi ini dengan memberikan hukuman fisik dan verbal pada anak dengan harapan agar anak tersebut tidak mengulangi kesalahannya.

Sikap memperlakukan anak  dengan bentakan dan teriakan keras apalagi memukul merupakan  pelanggaran terhadap salah satu hak anak. Sungguh ironis sekali, di saat seluruh dunia berupaya membela hak dan menyelamatkan anak dari tindak kekerasan di luar rumah, seperti kekerasan seksual, penculikan, penjualan anak untuk eksploitasi sampai fenomena bullying,ternyata di rumah, tempat yang seharusnya menjadi tempat teraman, anak mendapat tindak kekerasan dari orang tua mereka sendiri.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, menyebutkan bahwa  setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan.

Yang dimaksud dengan anak dalam undang-undang ini adalah anak yang berumur dibawah 18 tahun. Kekerasan terhadap anak, menurut undang-undang ini adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Kekerasan terhadap anak merupakan tindakan pidana. Untuk melindungi anak dati tindakan kekerasan dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia {KPAI} bertugas:

  1. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan Hak Anak;
  2. memberikan masukan dan usulan dalam perumusan kebijakan tentang penyelenggaraan Perlindungan Anak.
  3. mengumpulkan data dan informasi mengenai Perlindungan Anak;
  4. menerima dan melakukan penelaahan atas pengaduan Masyarakat mengenai pelanggaran Hak Anak;
  5. melakukan mediasi atas sengketa pelanggaran Hak Anak;
  6. melakukan kerja sama dengan lembaga yang dibentuk Masyarakat di bidang Perlindungan Anak; dan
  7. memberikan laporan kepada pihak berwajib tentang adanya dugaan pelanggaran terhadap Undang-Undang ini.

Kembali kepada kasus Nani di atas, bila ada yang mengadukan Rasiah kepada KPAI atas tindakannya melakukan kekerasan terhadap anak, maka Rasiah akan berhadapan dengan hukum. Kekerasan terhadap anak merupakan tindakan pidana.

View original from ojs.uniska-bjm.ac.id