KDRT

ASSALAMUALAIKUM WR. WB.

BERANDA PEREMPUAN

TEMPAT NGOBROL SANTAI,  SAMBIL NGUPI

BUKAN  MENGGURUI, BUKAN SOLUSI

HANYA  MENYALURKAN ASPIRASI

Kita ketemu lagi di beranda perempuan.

 Beranda Perempuan, tempat ngobrol  santai, sekitar masalah kehidupan sehari hari.

Di Beranda Perempuan kita pernah ngobrol tentang PERNIKAHAN, KITA PERNAH NGOBROL PERCERAIAN dan NGOBROL TENTANG   ANAK KORBAN  PERCERAIAN DARI ORANG TUANYA.

Sekarang kita akan ngobrol tentang KDRT.  Kekerasan dalam Rumah Tangga. Fokusnya pada isteri korban KDRT,

Seorang sahabat bernama Ani, pernah mengeluh di BERANDA PEREMPUAN:

“ Betapa bodohnya diriku. Aku  tidak menyadari apa sebenarnya yang kualami. Suamiku memang  tidak pernah memukul, Tapi dia suka  mengejek, mencaci maki dan menuduhku selingkuh”.

Ani termenung. Dia  menyadari betapa bodoh dirinya. Tidak mengerti apa yang sedang dialaminya. Yang dia tahu, dia  mencintai suaminya.

“ Ketika baru menikah, suamiku  seorang laki-laki  yang  lucu, humoris  dan senang membuat semua orang tertawa:, lanjut Ani.

“ Kami harmonis, sering jalan berdua.  Ngobrol santai  menghadirkan perasaan nyaman. Tapi belum cukup setahun, Suami  mulai marah-marah.  Aku panggilnya dengan sebutan yang menyakitkan, seperti    bodoh, jelek, tidak berguna dan sebagainya..  Kalau aku keluar rumah, suami selalu mengecek, bertanya di mana aku berada, bersama siapa, berapa banyak uang yang sudah  dhabiskan. Dan….. aku  sering dituduh selingkuh”, kata Ani melepaskan unek-uneknya.

Kasus di atas mengundang kita untuk membicarakan masalah kekerasan  verbal dalam rumah tangga. Masih banyak orang yang belum memahami bahwa sikap mengejek, mencaci maki dan menuduh selingkuh  termasuk dalam kategori kekerasan dalam Rumah Tangga.Namanya Kekerasan verbal.  Karena suami tidak pernah memukul, isteri  tidak pernah menyadari bahwa apa yang dilakukan terhadap dirinya termasuk dalam kategori kekerasan.

Seperti Ani, banyak isteri  yang tidak memahami bahwa kekerasan dalam rumah tangga tak hanya berbentuk fisik, tapi juga berbentuk kekerasan verbal  atau ucapan. Mereka tidak tahu bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan verbal.  

Bila kekerasan fisik saja sering sulit meminta perlindungan hukum, apalagi kekerasan verbal. Tentu  jauh lebih sulit.  Padahal luka yang ditinggalkan bisa lebih dalam.

Pada kekerasan verbal, anggota tubuh memang tak rusak dari luar, namun, justru rusak dari dalam. Tekanan psikologis akan membuat orang mudah sakit secara fisik dan menguras energi positif dalam dirinya.

 Menurut neuro sience,   reaksi otak terhadap kekerasan verbal sama dengan reaksi otak terhadap kekerasan fisik. Ada benarnya juga syair lagu Meggy Z, “ lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”. Kata “sakit hati” ternyata bukan metafora belaka.  

Kekerasan verbal akan meninggalkan parut luka yang dalam. Efek yang ditimbulkannya  jauh lebih membekas daripada curahan cinta dan kasih sayang yang diberikan.  Kekerasan verbal membuat luka di otak,  yang biasa disebut dengan brain damage. Hal ini akan menimbulkan efek trauma jangka panjang dan  depresi yang sulit disembuhkan.

Korban kekerasan verbal akan mengalami tekanan emosional dan kehilangan PD, kepercayaan diri.

Pada kekerasan fisik, luka memar dapat sembuh dengan sendirinya, tapi luka hati tak dapat sembuh dengan mudah. Butuh waktu panjang agar dapat bangkit dari tekanan emosional.

 Pukulan  mental yang dijatuhkan bertubi-tubi, diejek, dihina, dituduh selingkuh, membuat korban depresi dan putus asa.

Depresi, putus asa dan  kesedihan berlarut-larut, dapat membuat orang mati  pelan-pelan. Deprasi berdampak pada kinerja jantung, sehingga mengundang datangnya berbagai penyakit. Maka itu tak heran jika korban kekerasan verbal mudah sakit.

Kekerasan verbal membuat korbannya gagal mencintai diri sendiri.  Isteri  yang mengalami kekerasan verbal  tidak mencintai dirinya. Dia  berhenti  melakukan aktivitas yang berhubungan dengan menjaga kesehatan dan kecantikan dirinya.   

Selalu merasa  bersalah dan meyakini bahwa dirinya adalah perempuan jelek, tak becus dan buruk. Dan merasa apa yang suami lakukan padanya adalah hukuman yang patut diterima.

Kekerasan verbal dalam rumah tangga sering tidak disadari dan sering perempuaan (isteri) yang menjadi korbannya.   Cinta  indah di waktu pacaran, sering berubah menjadi petaka setelah menikah. Betapa sakitnya  dipanggil dengan sebutan yang menyakitkan, bodoh, jelek, dan tidak berguna. Dan…… Lebih sakit lagi  dituduh selingkuh…………………….!

Sakitnya itu disini lho, dihati……………………

Menutup pembicaraan ini, mari kita sosialisasikan bahwa kekerasan verbal adalah salah satu bentuk  Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sudah diterbitkan undang-undangnya agar KDRT dihapuskan. Semua kita wajib tahu. dan KDRT  perlu diwaspadai !.

Demikian obrolan santai di Beranda Perempuan.

Kita ketemu nanti dengan tema yang lain.

Assalamualaiku Wr. Wb.