KARTINI ABAD 21 DALAM REALITAS POLITIK MASA KINI

kartiniKetika putaran hari kembali mendekat bulan April, tepatnya tanggal 21 April , Perempuan Indonesia di berbagai pelosok negeri ini  bersiap untuk memperingati hari lahir R.A Kartini. Sejarah telah memahatkan nama R.A. Kartini sebagai pahlawan bangsa yang berjuang untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan.

Buku    Habis Gelap Terbitlah Terang, yang memuat  cita-cita etis Kartini dan gugatan terhadap diskriminasi  perempuan telah memotivasi perempuan Indonesia sejak dulu hingga sekarang untuk berjuang terus mewujudkan keadilan dan kesetaraan jender. Kartini menjadi simbol perjuangan perempuan.  Alhamdulillah,perjuangan perempuan Indonesia telah terlihat hasilnya. Secara hukum perempuan telah dilindungi hak-haknya, baik di bidang politik, ekonomi, budaya dan perlindungan dari tindak kekerasan, bahkan  saat ini di DPR RI  juga sedang dibahas RUU kesetaraan dan keadilan gender.

kartiniKita patut bangga, cita-cita etis Kartini telah terwujud. Kartini – Kartini kita abad 21 ini telah banyak yang mengenyam pendidikan dan bekerja di sektor publik. Perempuan Indonesia dewasa ini tidak lagi dirumahkan , tapi telah banyak yang berkecimpung di domain publik, seperti di lembaga legislative, eksekutif dan yudikatif.

Namun bila kita pahami secara cermat, kesetaraan dan keadilan jender sesungguhnya  masih jauh dari harapan. Perempuan di bidang politik masih marginal. Kegiatan politik perempuan terhambat baik secara kultural maupun struktural. Keterwakilan perempuan di lembaga-lembaga pembuat keputusan publik belum signifikan dan realitas politik masih bersifat maskulin.kartini

Hal ini terlihat dari Keterwakilan perempuan di lembaga Legislatif hasil  Pemilu 2009 yang  hanya 18,4 % atau 103 orang anggota Parlemen Perempuan.  Perubahan wajah kebijakan publik untuk keterwakilan  perempuan belum terwujud, semangat 30 % keterwakilan perempuan di lembaga Legislatif sesuai undang-undang Parpol dan Pemilu  masih harus terus diperjuangkan.

Usaha meningkatkan keterwakilan perempuan di lembaga-lembaga pembuat kebijakan publik harus dilakukan dari hulu hingga ke hilir. Dari hulu dilakukan dengan pembuatan undang-undang yang berpihak kepada perempuan, sedangkan usaha di hilir adalah mengembangkan kompetensi dan potensi perempuan.  Mengembangkan kompetensi  diri perempuan terutama di bidang politik  merupakan hal yang penting, agar perempuan dapat menjadi mitra sejajar dengan laki-laki.kartini

Bila kita lihat secara objektif, maka kita tahu bahwa masih banyak perempuan yang masih buta politik dan banyak perempuan yang masih canggung dan  memiliki kesulitan untuk berbicara secara berwibawa di depan publik.  Perlu diakui bahwa belum banyak ditemukan perempuan  yang mampu mandiri, kreatif dan percaya diri. Kemajuan  perempuan baru sebatas penampilan fisik belum sampai ke tataran berpikir.

Kemajuan perempuan harus  dilihat dari cara berpikirnya bukan dari penampilan fisiknya.  Banyak perempuan yang berpenampilan modis, tetapi sikap mentalnya masih konservatif, dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah percaya diri, selalu bergantung pada sosok seorang laki-laki.Yang sangat memprihatinkan, ketika memahami bahwa   masih banyak perempuan-perempuan kita yang masih teringkus dalam pembicaraan  picik dan kuno, seperti mengunjing orang lain karena rasa iri dan dengki dan hubungan tidak harmonis dengan sesama perempuan, disudut-sudut ruang, diperkumpulan arisan dan warung ujung gang.

Menyambut Hari Kartini, dan sehubungan dengan masih dominannya budaya patriarchi dalam realitas politik kita, maka para Kartini abad 21 perlu kita himbau agar meningkatkan kompetensi diri dalam politik, meningkatkan kecerdasan baik secara intelektual, emosional dan spiritual. Untuk cerdas intelektual, tuntutlah ilmu pengetahuan. Untuk cerdas emosional, perdalam rasa cinta pada sesama. Untuk cerdas spiritual, masuklah ke lorong-lorong transedental, sehingga mampu memahami makna kehidupan, dapat mengenal kepalsuan-kepalsuan, dapat mengerti berbagai  paradox dalam kehidupan sehingga dapat  menemukan hakikat hidup yang holistik. Dengan demikian, kartini –Kartini abad 21 ini dapat menjadi politisi yang berhati nurani. Semoga!.

Hai para perempuan  !

Bicaralah tentang kenegaraan

Bicaralah tentang  kemasyarakatan

Bicaralah tentang kepartaian.