Indonesia Dilanda Krisis Kepemimpinan?

Tokoh rekonsiliasi Nasional Afrika Selatan, Nelson Mandela  telah membawa bangsanya, dari negara rasialis menjadi negara demokratis. Filosofi kepemimpinan Mandela adalah kepemimpinan dimulai dari hati untuk melayani rakyat, bukan ingin dilayani.  Nelson Mandela seorang pemimpin yang melayani rakyatnya. Egoisme kepemimpinan jauh dari dirinya. Kekuasaan baginya bukan untuk menindas tapi untuk melindungi.

Kepemimpinan Lee Kuan Yew dari Singapura yang  cenderung otoriter, elitis, dan dianggap tidak demokratis, tapi Lee telah membawa  Singapura menjadi salah satu negara maju di dunia. Menurut keyakinannya, Singapura akan tetap maju meskipun tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, karena kunci dibalik kemajuan Singapura adalah kemauan dan tekat warganya dibawah pemimpin yang cerdas.  

Bagaimana kepemimpinan di Indonesia?.

 Sistem kenegaraan kita di era Reformasi ini  sesungguhnya telah dapat menelorkan pemimpin-pemimpin yang baik  bagi bangsa ini. Perkembangan demokrasi di Indonesia telah menghasilkan anggota DPR-RI periode demi periode yang terpilih melalui proses demokrasi yang lebih matang. Demikian pula Presiden dan Wakil Presiden telah dipilih secara langsung.  Proses demokrasi yang matang ini  seharusnya  mendorong wakil –wakil  rakyat   untuk meningkatkan kinerja dan kualitasnya dalam mengemban fungsi sebagai wakil rakyat. Proses Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung dan demokratis juga seharusnya mendorong pemimpin nasional  beserta   para Menteri, gubernur dan bupati/walikota se Indonesia, bersikap  efektif dan memiliki leadership yang tinggi. 

Disamping itu, amandemen UUD tahun 1945 telah pula menghasilkan perubahan kontruksi hubungan kekuasaan eksekutif dan legislatif dimana hubungan ini merupakan suatu hubungan ketatanegaraan  yang didasarkan pada  sistem  dan mekanisme checks and balances  antar cabang kekuasaan negara. Dengan demikian, mereka yang menjadi pemimpin  di negeri ini, seharusnya dapat menjadi pemimpin yang efektif,  melayani rakyat dengan baik, tidak  arogan dan egoistis. 

Menyimak berbagai realitas kehidupan bernegara, wajar rakyat  menggerutu dan  mengurut dada.  Ditengah  pelaksanaan demokrasi di era reformasi  banyak  para  pemimpin  hanyut dalam pragmatisme politik. Kebebasan berekpresi dan  mengejar kekuasaan  telah mengacaukan nilai-nilai falsafah negara yaitu Pancasila.   Individualisme  telah mengalahkan kolektivisme. Para pemimpin   banyak yang menjadi koruptor. Hiruk pikuk perpolitikan Indonesia  moderen yang  elitis, telah mengkhianati nilai-nilai luhur   bangsa . Harga yang harus kita bayar, adalah fakta, bahwa sedikit demi sedikit kita kehilangan jati diri ke-Indonesia-an. Kita sibuk  menghadapi  konflik sosial baik horizontal maupun vertikal.

Mengamati fenomena sosial dewasa ini, terdapat  penjungkirbalikan logika, dan nilai-nilai  moral sehingga yang salah dapat menjadi benar dan yang benar dapat menjadi salah. Yang baik bisa jadi buruk dan yang buruk bisa jadi baik.  Bangsa ini sedang kehilangan ukuran-ukuran moral  dalam menjalankan kehidupannya dan banyak terjadi kesesatan logika.

Sementara itu,  terlihat bahwa mereka yang menjadi pemimpin tidak memberikan teladan. Mereka hanya pintar beretorika dan sibuk membangun citra.  Yang menyakitkan hati lagi, banyak pemimpin yang bertingkah aneh – aneh menyulitkan lingkungannya. Keinginan untuk melayani rakyat sedikit sekali. Banyak pemimpin kita sekarang ini, matanya  tidak bisa melihat, telinganya  tidak bisa  mendengar dan hatinya  tidak bisa  merasa. Pemimpin kita banyak yang  arogan dan egois. Ketamakan pada kekuasaan telah  mendikte sikap dan perilakunya. Para pemimpin saling mencederai dalam bersaing merebut kekuasaan dan kepentingan tanpa menggunakan politik  yang beretika.   Negeri ini sedang dilanda krisis kepemimpinan.

Dewasa ini, diharapkan hadir pemimpin yang efektif. Menurut Peter  F. Drucker, pemimpin yang efektif  bukan pemimpin  yang pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai, tetapi  tergambar dari hasil kerjanya. Hal ini akan berarti bahwa Pemimpin efektif adalah pemimpin yang mempunyai sense of urgency dan mampu mengambil keputusan  serta mampu menetapkan kebijakan strategis. Dari  segi moral, pemimpin efektif adalah pemimpin yang tidak menggunakan kekuasaan demi kehormatan dan keagungan pribadi tetapi selalu  terus bertanya  tentang hal –  hal  terbaik yang bisa dilakukan untuk rakyat atau demi kepentingan banyak orang.

Banyak pihak mengharapkan agar rakyat mampu membenahi aspek kepemimpinan di negeri ini. Tentu saja melalui proses politik Pemilu. Kita telah merindukan pemimpin yang, efektif, cerdas, tangguh, bertanggungjawab, bermoral dan penuh strategi.  

Tiap warganegara punya potensi menjadi pemimpin dan  potensi itu harus dikembangkan, kata Jhon Maxwel (pakar kepemimpinan Global).  Oleh karenanya perlu peranan  Lembaga (dalam hal ini parpol)  untuk mendidik kadernya menjadi pemimpin yang baik dan efektif. Kepemimpinan yang efektif menuntut seseorang untuk tidak menggunakan kekuasaan demi kehormatan dan keagungan pribadi. Pemimpin efektif  mengutamakan kekuatan pribadi bukan menggunakan kekuasaan sebagai posisi.  Makin cepat kondisi  ini disadari makin baik bagi kehidupan kita sebagai bangsa.  Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural. Sikap toleran dan  kekeluargaan  perlu diutamakan. Sekalipun   liberalisme dan kapitalisme telah menjadi cara kerja dunia  tapi   sikap toleran dan kekeluargaan tidak boleh lenyap.Walaupun banyak tantangan yang dihadapi di era globalisasi ini, seperti   cyber crime, kebebasan informasi, krisis energi dan lemahnya  ketahanan pangan,  tapi jati diri bangsa tidak boleh pudar, Indonesia harus jaya