Androgini

Assalamualaikum Wr.Wb.

Kita ketemu lagi di

BERANDA PEREMPUAN

Ngobrol santai sambil ngupi, bukan menggurui, bukan solusi, hanya  menyalurkan aspirasi.

Beranda Perempuan membawa obrolan tentang berbagai  fenomena manusiawi.  

Pernikahan fenomena manusiawi

Perceraian fenomena manusiawi

Kita telah ngobrol santai mengenai hal ini.

Hari ini Beranda Perempuan mengangkat cerita sebuah fenomena manusiawi tapi di dalamnya ada misteri.

Kita akan bicara tentang  ANDROGINI.

Seperti biasa Beranda Perempuan tempat curhat para sahabat. Beranda Perempuan bukan ngajarin, bukan solusi hanya mendengar curaan hati. Beranda Perempuan selalu membuka mata, telinga dan hati. Orang kadang hanya butuh didengar, sebagai outlet keresahan jiwa.   

Kali ini, tokoh kita, namanya Murdif. Dia seorang androgini. Androgini adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan  (wikipedia).

Apa itu Androgini?.  Kita jelaskan dulu ya.

Seorang androgini,  artinya seorang laki-laki bisa tampil  maskulin dan bisa juga tampil feminin. Dengan pendekatan identitas gender, seorang androgini adalah orang yang tidak dapat sepenuhnya cocok dengan peranan gender maskulin dan feminin yang tipikal dalam masyarakat.  Androgini disebut juga ambigender. Banyak androgini yang menggambarkan dirinya secara mental “di antara” laki-laki dan perempuan, atau sama sekali tidak bergender.

Secara identitas, para androgini mengaku tetap berkelamin semula. Artinya seorang pria androgini tidak  mau disebut waria atau transgender (ganti kelamin).  Dia mengaku tetap laki-laki normal. Begitu juga perempuan Androgini. Dia mengaku perempuan normal.

Penyebutan androgini bagi seseorang  adalah bentuk keraguan terhadap identitas dirinya. Yang satu kali dia bersifat laki-laki (maskulin) dan kali yang lain menjadi feminin (yang tentu lebih mendekati sifat perempuan). Ini yang secara psikis membuat keraguan terhadap identitas dirinya.

Mari kita dengar keluhan jiwa seorang laki-laki androgini.

“ Orang tak tahu bagaimana sulitnya hidup ini kujalani. Aku  memilih diam karena sekalipun kuungkapkan apa yang menjadi esensi jiwaku, masyarakat tak percaya. Hidupku dipenuhi oleh keganjilan jiwa yang menyiksa batin” .  Kata Murdif suatu hari di Beranda Perempuan.

“ Jangankan orang lain, keluarga sendiri sering menyakitiku. Sering aku dipanggil  bencong, banci dan gay. Aku sering mendapat  perlakuan kasar dan dicemoohkan, karena aku laki-laki tapi punya hasrat berbeda”, kata Murdif dengan mata berkaca-kaca.     

Itu curhat seorang laki-laki Androgini.

Banyak orang tidak tahu dan tidak mengerti bahwa ada identitas gender selain dari gender laki-laki dan gender perempuan, yaitu   ambigender. Itulah  kelompok androgini yang juga merupakan identitas gender manusia.

Sesungguhnya sulit berbicara tentang  Androgini. Dalam masyarakat Islam, Androgini  dikatakan berbahaya.  Islam menentang konsep androgini. Secara fakta, identitas ANDROGINI  ambivalen atau tidak jelas. Dalam pandangan masyarakat Islam, Androgini adalah  sebuah perilaku dan hukumnya haram. Seorang laki-laki harus beridentitas dan berperilaku layaknya laki-laki. Seorang perempuan harus beridentitas dan berperilaku layaknya perempuan.

Istilah androgini  pernah dipopulerkan sebagai sebuah  metode pendidikan khusus oleh aktivis gender yang berjuang mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Konsep androgini dimasukkan dalam pendidikan PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini). Dengan konsep androgini, anak diajarkan untuk tidak boleh terikat dengan konsep keperempuanan atau kelelakian. Dalam PAUD Androgini tidak  diajarkan lagu-lagu yang memosisikan peran  perempuan tidak setara dengan laki-laki. Seperti lagu  lihat kebunku. Dalam bait kedua, syairnya berbunyi : bapak pegang tongkat, ibu pegang sapu. Bapak naik pangkat, ibu jadi guru. Dalam konsep androgini, Perempuan pun juga bisa naik pangkat dan bapak pun juga harus pegang sapu.

Secara pemikiran, PAUD androgini  dekat pada ideologi feminisme yang mengusung ide kesetaraan dan keadilan gender. Dalam pandangan feminisme yang mendukung konsep androgini, memandang buku-buku bacaan sekolah dasar sekarang ini menyesatkan. Sering digambarkan seorang ibu menjahit atau bapak membaca koran. Anak laki-laki berolah raga dan anak perempuan bermain masak-masakan. Anak perempuan identik dengan warna pink dan anak laki-laki  lebih cocok warna biru, Perempuan adalah makhluk domestik dan laki-laki manusia  publik dan lainnya.

Banyak orang tidak tahu bahwa androgini sebuah fenomena manusiawi. Banyak yang  tidak tahu  bahwa ada identitas gender selain dari gender laki-laki dan gender perempuan Ada  ambigender yaitu androgini. Gender androgini  juga merupakan identitas gender manusia. Namun jarang diselami tapi  dicap saja sebagai ketidak normalan.

Demikian obrolan santai di Beranda Perempuan.

Kita ketemu nanti dengan tema yang lain.

Assalamualaikum  Wr. Wb.