Renungan tentang Intoleransi di Indonesia

“Intoleransi  adalah hulu terorisme”,  demikian pendapat Donny Gahral Adian, Dosen filsafat Universitas Indonesia dalam artikelnya yang berjudul “Bahaya laten Intoleransi “, Kompas, 2 Juni 2018. Donny menyebutkan bahwa  Intoleransi adalah terorisme lunak ketika intoleransi diumbar secara agresif di ruang publik. Intoleransi merupakan  ideologi yang menggalang afeksi kolektif bukan kognisi. “Intoleransi adalah bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa meledak “, karena intoleransi mampu mengoyak-ngoyak tubuh social.

Pandangan di atas membuat kita merenung tentang nasib bangsa ini ke depan. Gelombang globalisasi yang membawa berbagai ide, cara berpikir dan cara hidup telah membuat masyarakat kita  sangat sensitif terhadap berbagai hal. Ditambah lagi dengan demokrasi yang dijalankan secara nyata, dimana tiap orang bisa berteriak, bisa mengeluarkan pendapat di depan publik, membuat sikap toleransi hari demi hari tergerus. Tidak dapat dipungkiri, intoleransi terjadi antar  umat beragama, umat seagama dan antar umat dan pemerintah. Intoleransi yang ditandai dengan sikap “ serba anti”  sudah sampai pada tahap yang mencemaskan.

Masyarakat kita selama ini cukup toleran, kenapa  kini menjadi sensitive? Sensitivitas ini terus berkembang menjadi intoleransi yang disebut Donny sebagai ideologi. Ideologi intoleransi jelas berbahaya bagi negara dan bangsa Indonesia, berbahaya bagi Pancasila dan kehidupan demokrasi yang sedang berlangsung.  Sikap toleransi perlu segera dikembangkan karena merupakan pilar utama untuk memperkokoh demokrasi di Indonesia.

Apa itu Toleransi ?

Toleransi berasal dari bahasa Latin tolerāre yang berarti “to bear, to endure, to tolerate”:  menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Dari pengertian di atas,  toleransi berarti menerima perbedaan tidak menggunakan kekuatan untuk menolak suatu perbedaan tersebut.

Indonesia negara multikultur.  Melaksanakan demokrasi dalam negara yang multikultur, memang tidak mudah,jelas membutuhkan sikap toleransi.  Karena itu, agar demokrasi berjalan sebagaimana mestinya di negeri ini,  maka kepentingan bersama harus diutamakan. Sikap toleransi sangat diperlukan. Toleransi adalah pilar demokrasi. Demokrasi akan jalan di Indonesia selama interaksi antara  umat beragama, umat seagama dan  antar umat dan pemerintah  dapat menjalin saling pengertian, harmonis dan toleran. Perbedaan perbedaan yang ada  harus dilihat sebagai  dinamika social, bukan mengoyak-ngoyak tubuh social.

Bangsa Indonesia pernah memiliki citra sebagai bangsa yang ramah yang tentu dapat diartikan sebagai bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi. Hal ini tentu karena Ideologi Pancasila yang terus menerus menanamkan kesadaran bahwa kita bangsa yang plural.  Bagi bangsa yang plural, toleransi menjadi jiwa dan cara kerja social. Bila intoleransi tidak cepat diantisipasi, bukan tidak mungkin NKRI hanya tinggal nama. Atau setidaknya, demokrasi harus dihentikan. Bangsa yang tidak toleran tidak bisa berdemokrasi.

Sesuai konsepsi Ketahanan nasional, tiap ancaman terhadap bangsa dan negara harus dicegah. Menurut undang-undang RI,  fungsi mempertahankan negara diserahkan pada militer (TNI).  Bila intoleransi telah sampai mengancam kehidupan bangsa dan negara, maka demokrasi harus dihentikan, kekuatan harus dikedepankan.Untuk itu, apakah kita  perlu orang kuat baru   memimpin negara ini ?

 

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*