Sistem Zonasi, Matematika penting

Sistem belajar  di negara ini masih konvesional.   Mendukung  pembelajaran hapalan dengan  jam belajar yang panjang.  Anak  terintegrasi dengan sekolah dan  bergaul dengan guru hampir sehari penuh, Senin hingga Jumat. Pembelajaran sarat hapalan ini  dimaksudkan untuk mendorong  siswa sukses dalam Ujian Nasional (UN).  Nilai ujian nasional penentu untuk dapat masuk sekolah pada tingkat berikutnya.  Penerimaan  Peserta Didik Baru (PPDB) didasarkan pada  nilai akhir ujian nasional.

Mulai tahun 2019 penerimaan  peserta didik baru (PPDB) diberlakukan sistem zonasi.  Maka itu, proses belajar dan mengajar harus diubah. Pembelajaran yang selama ini mendukung hapalan harus diganti dengan belajar yang  mendorong individu untuk berkonsentrasi pada pengembangan pembelajaran sendiri. Pelajaran matematika  menjadi penting untuk pendidikan sejak siswa Sekolah Dasar (SD).

Matematika adalah ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hierarkis abstrak,bahasa simbol  dan padat arti. Anak usia SD sedang mangalami  perkembangan dalam tingkat berfikirnya. Mereka berada  pada tahapan prakongkret  ke kongkrit dan menuju tahapan abstrak. Perlu seorang guru untuk menjembatani    antara dunia anak yang belum berfikir deduktif untuk dapat mengerti dunia  kongret.  Matematika yang bersifat deduktif.

Pelajaran matematika  bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memahami  konsep, penalaran, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, dan memiliki sikap menghargai dalam kehidupan (BSNP, 2006). Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung, tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan  siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving), baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya. Pembelajaran matematika membangun cara berpikir matematis.

Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Bila siswa mampu memecahkan masalah masalah matematika,  akan   mampu pula memecahkan masalah di bidang lainnya. Matematika membangun  kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan untuk bekerja secara matematis. Matematika  merupakan  latihan pemecahan masalah. Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugerah  khusus buat manusia .

Pembelajaran hapalan

Sistem belajar  yang   mendukung  pembelajaran hapalan dengan  jam belajar yang panjang, ternyata tidak efektif. Hal tersebut terjadi karena berbagai faktor, antara lain adanya sistem yang ‘memaksa’ guru untuk mengarahkan pembelajaran pada belajar hafalan. Sebagai contoh adanya ujian atau tes  yang dilaksanakan dengan soal yang dominan hafalan dan hitungan akan mengarahkan peserta didik menghafalkan rumus tanpa memahami makna rumus dan konsepnya.  Ini dilakukan secara sadar maupun tidak.  Menyedihkan memang  bila melihat  pendidikan dasar kita didominasi oleh hafalan.

Perhatian  pemerintah terhadap pedidikan Dasar masih  minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, aturan UU pendidikan Dasar kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk.

Ada anak yang malas belajar karena dia memiliki tingkat kecerdasan tinggi, sehingga mudah bosan/jenuh dengan metode pengajaran atau materi yang monoton.    Guru seharusnya  memberikan materi yang lebih menantang atau meminta anak yang pintar untuk membantu guru mengajari teman-temannya yang lain .

Selain itu ada juga anak yang malas belajar karena ia mencari perhatian dari orang sekelilingnya, misalnya dia ada masalah di rumah atau orangtua sedang ada masalah di rumah. Hal ini mempengaruhi anak saat belajar di sekolah.

Perkembangan teknologi internet

Dengan berkembangnya teknologi internet, pembelajaran di kelas dapat dibantu gedget. Buku diganti dengan gedget. Pengalaman anak  dalam proses belajar mengajar  sekarang ini dapat kita simak sebagai berikut .

“ Kami masuk kelas.  Guru  matematika menjelaskan pelajaran. Siswa duduk dengan tertib,  mendengar dan diam. Tidak ada yang bertanya, kecuali satu atau dua orang. Ketika guru memastikan  apakah sudah mengerti, serentak kami menjawab sudah. Lalu guru men sharing pelajaran yang dijelaskan tadi ke WA group kelas. WA itulah yang kami baca untuk memahami pelajaran matematika, padahal penjelasan tadi belum dipahami.  Buku sudah tak perlu yang penting  gedget “.

Cerita  lain dapat pula kita simak dari tulisan seorang anak yang menguraikan kesulitannya belajar matematika.

Nama  Lengkapku M. Rasyad Satria Verdiansyah, dipanggil Rasyad.  Aku duduk di kelas 5 SD.  Sekolahku sekolah Islam. Guru perempuan, kami panggil umi dan guru laki-laki kami panggil Abi. Umi Sartika mengajar matematika.  Umi Yuli mengajar Bahasa Indonesia dan Umi Nofi mengajar Ilmu Pengetahuan sosial (IPS).  Aku tidak suka pelajaran matematika, aku suka pelajaran  IPS.  Matematika menyulitkan, tapi IPS menyenangkan. Melalui pelajaran IPS aku memahami bahwa Indonesia luas dan indah, pulau pulau nya banyak dan lautnya luas sekali. Jumlah penduduknya besar dengan budaya dan agama yang beraneka ragam. “ Semboyan Bhineka tunggaL Ika sangat perlu kita pahami. Sekalipun  berbeda suku dan agama tapi kita  harus rukun dan hidup damai,”  kata umi Nofi guru IPS kami.

Kalau pelajaran matematika, aku  sulit memahaminya.  Mungkin aku kurang fokus mendengar penjelasan Umi Sartika.  Atau Umi yang kurang  bisa menjelaskan. Aku sering bingung mengerjakan  PR matematika . Tiap menerima rapor, aku cemas kalau nilai matematikaku mendapat angka rendah dibawah nilai rata-rata kelas. Demikian pengalaman ku dalam belajar Matematika.   IPS menyenangkan,matematika menyulitkan.

Matematika penting untuk pendidikan sejak siswa SD. Maka itu perlu dicari jalan penyelesaian, yaitu suatu cara mengelola proses belajar mengajar matematika di SD sehingga matematika dapat dicerna dengan baik oleh siswa  SD. Guru ujung tombak dalam mendidik generasi bangsa, terutama guru di Sekolah Dasar. Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah.

 

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*