Pernikahan perlu kedewasaan

Wajahnya  terlihat murung.  Airmata masih menggantung di pipinya. Dia duduk termenung. Matanya memuntahkan kemarahan.   Pikirannya  liar, melompat kesana kesini. Dia bingung dan sedih memikirkan jalan hidup rumah tangganya.

“ Suamiku sering marah-marah.  Apa aku harus menyembah-nyembah, berlutut dihadapannya”?, tanya  Wangi pada dirinya.

“Kami berbeda pandangan. Dia punya kemauan. Aku manusia juga memiliki kemauan. Apakah kemauanku harus selalu tunduk pada kemauannya ” tanya Wangi lagi .  “ Aku berhak menggembirakan hatiku, suamiku tidak bisa membuatku bahagia “ desahnya dalam hati.

Awalnya pernikahan mereka baik baik saja. Wangi Kasturi telah mantap memilih safri menjadi suaminya. Tapi lama kelamaan mereka sering bertengkar. Kadang-kadang hanya  pertengkaran tidak berarti.  Mereka  gagal paham. Tidak bisa saling memahami. Wangi  merasa ditawan dirumah. Dia merasa sebagai barang simpanan, berdandan dan berpakaian bagus. Menanti suami untuk membawanya  keluar rumah.

Sang suami, selalu merasa dibebani oleh sikap isterinya  yang kekanak kanakan, sehingga membuat  hatinya tawar. Wangi  sering bertingkah yang menimbulkan amarahnya.  Isterinya itu  selalu  mengabaikan hal-hal penting buatnya.

…………………..

Apa yang ada dalam pikiran Isteri ?

Aku dilihat seperti perempuan masa lalu. Perempuan dulu harus memberi hati pada suami. Suami pulang kerja disambut, di bawa duduk dan dibukakan sepatunya. Itu dipandang sebagai tanda cinta kasih dan setia.

Perempuan sekarang ?. Sudah sama haknya dengan laki-laki. Perempuan sekarang tidak lagi mau terkungkung dalam kerja domestik, mengurus anak, mengurus suami. Perempuan tak mau lagi  ditawan dirumah,  dipandang sebagai barang simpanan.

Dia sering marah. Perlukah aku buka mulut?.  Apa aku harus menyembah-nyembah, berlutut dihadapannya. Pernikahan itu pertemuan orang dewasa yang menyatukan pikiran dan bersama mencapai suatu tujuan. Tapi  bila  tidak bisa saling memahami ? .  Biarlah  kami hidup sendiri-sendiri.

Kami berbeda pandangan. Kami masing-masing punya kemauan sendiri-sendiri.  Aku manusia yang juga memiliki kemauan. Apakah kemauanku harus tunduk pada kemauannya.  Aku berhak menyenangkan pikiranku dan menggembirakan hatiku.

Kalau aku ingin  pergi, dia  tidak sempat menemaniku, kenapa tidak boleh jalan sendiri ?  Kalau laki laki  boleh keluar sendiri,  kenapa perempuan  tidak. Apa bedanya?.  Emangnya perempuan penjaga rumah, menunggu suami pulang.  Hidupku akan menjadi  pohon meranggas, sunyi dan sepi.

……………….

Apa yang ada dalam pikiran suami?

Isteriku sering bertingkah yang menimbulkan amarah.  Dia  selalu  mengabaikan hal-hal penting buatku.  Banyak perangainya  yang membebaniku hingga membuat  hati ku tawar.

Dia  pergi keluar rumah tanpa izin padaku. Kalau pulang terlihat mukanya seperti   menantang dan seolah-olah menunggu pertanyaanku “ kemana kamu pergi”.

Bila diajak ngobrol dan berdiskusi , tak lebih dari 5 menit bercakap-cakap, perbantahanpun datang. Pikirannya sering liar, melompat tanpa peduli logika dan kausalitas. Kata-katanya menggusik perasaan. Lalu kami sama-sama diam. Bila kucoba bicara lagi, sikapnya dingin saja. Dia sibuk dengan gawainya. Mukanya asam.  Isteriku bukan perempuan yang ramah, pandai bergurau dan bercumbu. Isteriku perempuan  perengut.

Dia, katanya  mengharapkan cintaku, ingin aku puji, hendak dimanjakan sebagai isteri  tersayang. Tapi ketika kupuji dan kumanjakan sikapnya dingin saja. Bila aku yang  bersikap dingin, maka dia akan ngomel, lalu pergi sesuka hatinya.

Pernikahan itu pertemuan orang dewasa yang menyatukan pikiran dan bersama mencapai suatu tujuan. Belum sukses, jangan cepat menyerah, harus berjuang semaksimal mungkin. Masa depan itu mengandung harapan. Berbagai kemungkinan bisa datang.

 

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*