Politik Indonesia gaduh

Amin Rais mengeluarkan  diksi : “Kita buat  Jokowi menjadi bebek lumpuh”. Banyak pihak berpikir  apakah kata-kata yang keluar dari mulut seorang tokoh besar, seperti Amin Rais  dapat disebut melanggar keadaban kita alias tidak beradab ? Atau adab kita sekarang yang sudah berubah ? Apa pengubahnya ?. Kebebasan tak berbatas ? Komunikasi tak berpola ?  Apa yang telah mengubah perilaku orang?.  Di medsos orang saling membenci. Betapa  absurdnya pertengkaran karena berbeda pilihan politik. Sekarang terdapat perjuangan antara  kepentingan yang cair, bukan idelogis monolitik. Politik Indonesia sedang gaduh.

“Buta peradaban. Seenak perutnya mengancam. Amin Rais sedang  frustasi”  Orang balik memaki Amin Rais. Frustasi politik yang dialami Amin telah membuatnya kehilangan sikap santun seorang intelektual. Amin dituding frustasi, karena tak sempat jadi presiden. Kenapa ada yang bereaksi atas ucapan Amin ?  Kalimat yang diucapkan Amin di atas apakah termasuk ujaran kebencian? Apakah batas ujaran kebencian?

Media sosial  adalah sebuah publik domain. Suara siapa pun di dalamnya dapat terdengar, baik suara  dari orang terkenal maupun tidak. Pembicaraan secara online dapat memiliki hubungan dengan apa yang terjadi dalam dunia nyata. Media sosial memiliki dampak pada kesehatan emosional masyarakat. Banyak orang tidak  bijak dalam bermain di dalam platform digital. Hoax yang disebar oleh akun anonim serta  Hate speech dan fitnah yang sering digunakan oleh akun anonim   menimbulkan kesan bahwa komunikasi  melalui media sosial  tidak etis. Bahasa  amburadul, mengejek, memaki  membuat gaduh jagat sosial.

Dalam tahun politik Pilpres 2019, sosial media memang sangat efektif untuk menyapa pemilih dan menyampaikan visi, misi serta program kandidat. Waktu , tenaga dan logistik politik dapat dikurangi. Ada indikasi kuat bahwa masyarakat  mendapat informasi tercepat dan terpercaya melalui media sosial.

Kampanye dan sosialisasi melalui sosial media adalah pilihan yang tepat bagi kandidat.  Dewasa ini tidak dapat dipungkiri, banyak kandidat yang memiliki akun  serta influenser yang mendukungnya, walaupun tak sedikit pula  didampingi dengan akun penyebar hoax. Akun-akun media sosial berpotensi menyulut keonaran. Pesan di Whatsapp dan Facebook dengan narasi yang  jelas sekali berniat menghasut publik, menebarkan FUD (Fear, Uncertainty, Doubt).

Namun, masih banyak orang yang  nyaman dalam paradigma lama dan mereka terus bertanya, “Dunia lagi kenapa ya, kok masyarakat pada gaduh, saling membenci menghujat, memfitnah dan menebar hoax ?” Dulu media mainstream saja yang menggoreng isu-isu politik. Sekarang bermunculan dotor spine yaitu orang  yang punya akun dengan banyak follower. Mereka sering mengumbar rasa kebencian secara terus terang  di media sosial.

Media sosial termasuk institusi pembentuk karakter generasi muda bangsa. Saat ini ada lima jenis institusi pembentuk karakter generasi muda bangsa, yakni keluarga, sekolah, lingkungan sosial, televisi dan media sosial. Melalui gawai (gadget) orang berenang sesuka hati dalam arus media sosial. Untuk itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan media sosial harus mendapat perhatian penting, baik oleh keluarga, sekolah, lingkungan sosial dan juga pemerintah.  Penggunaan gawai (gedget) di media sosial belum  ada lembaga pengawasnya. Informasi dan pesan komunikasi di media sosial  dapat diterima penggunanya tanpa ada filter dari institusi apapun secara efektif.

Gawai ( gedget )  berpotensi untuk merusak masa depan generasi bangsa.  Lewat gadget (gawai), propaganda ideologi, radikalisme, liberalisme, kapitalisme dapat masuk dengan mudah.Dewasa ini, sebagian besar generasi muda bayak menghabiskan  waktu bersama gawai dan media sosial, ketimbang waktu bersama keluarga dan sekolah sebagai institusi pembentuk utama karakter bangsa. Perubahan perilaku, dapat mengubah cara berpikir.

 

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*