Sejarah industri hingga menyentuh generasi ke-4

Industri 4.0

Konsep  industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution. Schwab berpendapat bahwa konsep  industri 4.0   akan mengubah hidup dan kerja manusia. Industri generasi keempat ini  memunculkan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT),  mesin, manusia dan perangkat sensor berkomunikasi dan bekerja sama  satu sama lain. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.

 Tahap-tahap revolusi  Industri 

Revolusi industri pertama (1.0) terjadi pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.

Revolusi industri kedua (2.0 ) terjadi di awal abad ke-20. Saat  itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinnati, Amerika Serikat, pada 1870

Pada awal tahun 1970  muncul revolusi industri ketiga (3.0 ). Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut industri 3.0) ini  ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya cost  produksi menjadi lebih murah.

Awal 2018,  disebut dengan kemunculan  revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data. Semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things (IoT).

Yang lambat dimangsa yang cepat

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia dari dulu hingga kini.  Industri 1.0 melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. revolusi industri 2.o  ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri 3.0 ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.Selanjutnya, pada revolusi industri 4.0 telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat.  Sejarah mulai mencatat bahwa revolusi industri  4.0  telah banyak menelan korban. Yang lambat dimangsa yang cepat.

Dalam industri 4.0  ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Contoh lain,  adalah industri surat kabar konvensional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia . Perusahaan ini menggunakan  internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis.Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis.

Tantangan terberat dalam industri 4.0 adalah  para market leader. Awalnya  merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik.  Tapi ternyata, banyak kompetitor minor yang  bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi Industry 4.0. CEO Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*