MEDIA DIGITAL DALAM DEMOKRASI

 

Oleh  : Yuda Wibawa Hamonangan

School of Enterpreneurship  and Humanities, Academic Year 2017-2018 odd, Universitas Ciputra Surabaya

Apa itu media digital? Media digital merupakan media elektronik yang menyimpan data dalam bentuk digital, bukan analog. Media digital terbagi menjadi dua aspek yaitu aspek teknis ( seperti hard disk sebagai penyimpanan) dan aspek transmisi , contohnya jaringan komputer untuk menyebarkan berita dan dapat pula berupa video digital, audio digital, dan lainnya  sebagai bentuk penyampaian berita.   Media digital saat ini menjadi konsumsi kita sehari – hari. Media cetak seperti koran, surat kabar sudah mulai ditinggalkan karena perubahan zaman  menuntut kita untuk menggunakan teknologi yang lebih canggih. Dari tiap perkembangan baru teknologi pasti akan memiliki  efek negatif dan positif nya. Tulisan ini akan menyorot  peran  media digital terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia dalam kekinian.

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasan warga negara)  atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah. Hal ini berarti bahwa  dalam sistem demokrasi yang berkuasa adalah rakyat dan pemerintah mempunyai fungsi  untuk menjalankan amanat rakyat.. Oleh karena itu segala aktivitas pemerintahan, atau aktivitas negara berhak diketahui oleh rakyat.

Dalam era  ini berbagai informasi tentang aktivitas pemerintah dapat diketahui  melalui  media digital. Media digital adalah media paling cepat  untuk menyebarkan berita berita aktivitas pemerintahan dan dapat diakses masyarakat dalam waktu  singkat . Media digital  juga membuka wawasan masyarakat seluas luas nya sehingga proses demokrasi dapat berjalan dengan lancar. Aspirasi rakyat  dapat  lebih mudah disampaikan dan pemerintah dapat merespon  dengan cepat.

Sekalipun  besar peran media digital menyebarkan informasi dari pemerintah ke rakyat dan dari rakyat ke pemerintah, namun  media digital menyimpan efek negatif karena media digital  juga  dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk  memprovokasi dan  mengejek ejek pihak –pihak yang berseteru baik di bidang politik, ekonomi . Ada juga  yang menggunakan media digital untuk membangun sikap anti kebijakan pemerintah. Informasi yang  disebarkan  ke masyarakat tidak semua informasi positif, tapi ada berita  hoax atau  berita palsu, berita yang mengadu domba dan memprovokasi  kemudian  diviralkan atau disebarkan  dengan cepat. Nitizen atau pengguna media digital  sering secara terbuka memperlihatkan rasa permusuhan dan tidak menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Berita-berita  palsu dan mengadu domba berbasis suku, agama dan ras sangat  mudah dilontarkan dalam media digital.

Melalui pengamatan, terlihat bahwa  berita- berita  program pemerintahanpun  sangat rentan  menimbulkan pro dan kontra.. Orang – orang dengan mudah  membangun  bermusuhan di dunia maya karena berbeda pandangan terhadap program pemerintah.  Perdebatan yang muncul di media digital tidak lagi berbasis ideologis dan intelektual, tapi menghadirkan caci-maki dan bahasa yang tidak santun, sehingga dapat menghadirkan perpecahan dalam masyarakat.  Apalagi  masyarakat kita, masih banyak yang kurang terdidik, belum banyak yang mampu berpikir kritis,  tidak selektif dalam memilah dan memilih informasi sehingga  mudah terprovokasi.

Kesimpulannya,  media digital dapat menjadi sahabat bagi proses berdemokrasi, namun juga dapat menjadi momok yang dapat memecah-belah masyarakat. Oleh karena itu, penting meneliti  konten berita, yang positif di ambil  dan yang negatif di buang. Disisi lain, kita  harus bijak  menggunakan media digital agar media digital dapat berperan besar bagi kehidupan  berdemokrasi. Mari kita  lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat dari berita – berita provokatif di media digital.

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*