FENOMENA POLITIK DALAM PEMILIHAN PRESIDEN 2014. Boleh berbeda tidak boleh pecah

Oleh  :  Yosafat  (10116007)

School of Enterpreneurship  and Humanities, Academic Year 2017-2018 odd, Universitas Ciputra Surabaya

Indonesia negara demokrasi. Salah satu  wujud demokrasi adalah pesta rakyat atau lebih dikenal dengan sebutan pemilihan umum (Pemilu). Pemilu diadakan lima tahun sekali untuk memilih anggota  Dewan Perwakilan Rakyat dan memilih Presiden. Presiden pemegang kekuasaan pemerintahan (eksekutif), sedangkan  Dewan Perwakilan Rakyat pemegang kekuasaan membentuk undang-undang  (legislatif).  Demikian konstitusi negara RI (UUD 1945)  mengamanatkan tata cara penyelenggaraan negara Republik Indonesia.

Menjelang Pemilu  yang akan datang ( 2019 ), untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan memilih Presiden RI, sudah terlihat fenomena-fenomena yang menarik perhatian. Politik mulai bergoyang. Tokoh-tokoh bangsa yang ingin mencalonkan diri  mulai mempersiapkan diri, uang mulai ditabur untuk pdkt dan intrik-intrik politik mulai berseliweran. Tulisan  ini tidak memprediksi bagaimana situasi Pemilu  2019 nanti berlngsung, saya hanya  ingin membaca ulang  fenomena  politik   dalam   Pemilihan Presiden  2014 yang telah menjadi jejak-jejak sejarah dan patut dipahami oleh nitizen  segenerasi saya.

Salah satu fenomena politik dalam pemilihan Presiden 2014 yang saya baca ulang adalah  tentang pencalonan. Pencalonan Presiden dan Wakil Presiden dalam pemilu   2014 ini sempat berjalan alot. Muncul pandangan diametral  ketika ada penetapan bahwa pengajuan calon Presiden  dan  Wakil Presiden  harus oleh Partai Politik (Parpol). Selanjutnya, syarat Parpol yang bisa mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden   harus memiliki minimal 20%  anggota DPR RI   hasil Pemilu. Syarat undang-undang ini sempat membuat heboh dan menggoyang politik, tapi akhirnya  keluarlah dua pasangan calon Presiden dan Wakl Presiden, yaitu pasangan Prabowo Subianto/Hatta Rajasa dan pasangan Joko Widodo/ Muhammad Jusuf Kalla.

Kedua pasangan ini mendapat dukungan dari Parpol-parpol yang anggotanya ada di DPR-RI.  Parpol-parpol tersebut  membentuk koalisi yaitu, saling bergabung dan mendukung pasangan yang diusungnya.  Partai Gerindra, Golkar ,PPP, PKS , PAN dan  Demokrat  berkoalisi mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Mereka  menamakan diri sebagai Koalisi Merah Putih. Sementara itu, PDI–P, Hanura, NasDem dan PKB berkoalisi mendukung pasangan Joko Widodo/ Muhammad Jusuf Kalla. Gabungan parpol pendukung pasangan Joko Widodo/ Muhammad Jusuf Kalla  menamai diri sebagai Koalisi Indonesia Hebat. Pemilihan Presiden 2014 ditandai dengan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang masing-masing diusung  oleh koalisi partai-politik., koalisi merah putih dan koalisi  Indonesia hebat.

Pemilu 2014  memilih  pemimpin negara dan pemerintahan untuk masa bakti lima tahun. Koalisi parpol  berusaha memenangkan pasangan calon yang diusungnya.  Seluruh aspek kekuatan dikerahkan. Strategi pemenangan disusun dan  tim sukses masing-masing pasangan calon bekerja keras memenangkan  kompetisi. Mereka  mengajak, membujuk dan merayu masyarakat pemilih agar mau mendukung calonnya.

Satu lagi  fenomena yang mudah dibaca dalam  pemilihan Presiden 2014,  yaitu penggunaan media internet untuk kampanye.  Mulai dari memasang iklan, hingga penggiringan pilihan rakyat melalui  face book, twitter,WhatsApp, dan lainnya ramai dilakukan di media internet.   Penggunaan media inernet untuk kampanye membutuhkan tenaga  ribuan buzzer  untuk mengelola  ratusan channel yang diikuti oleh jutaan nitizen. Hal ini membuka lapangan pekerjaan baru untuk menyebarkan informasi tentang pasangan calon yang berada di arena pertandingan. Generasi melinial mendapat akses baru.

Dengan penggunaan media internet dalam pemilihan Presiden 2014 , terasa sekali kentalnya suasana digital dalam kampanye.   Saat itu, penggunaan internet sedang  marak-maraknya sehingga  informasi tentang kedua pasangan calon berseliweran di dunia maya. Masing-masing pendukung  menyebarkan  informasi positif tentang pasangan calon yang diusungnya.  Yang jahat dan usil  tak urung  menggunakan media internet  untuk merongrong lawan politiknya.  Fenomena ini tentu berbeda dengan  Pemilu 2009   yang berita Pemilu hanya  ada  di media cetak dan  televisi saja.

Fenemena lain yang dapat ditangkap dari Pemilihan Presiden 2014 adalah   gairah masyarakat berpolitik .  Banyak generasi milenial yang nota bene  pemilih baru  ingin berpartisipasi dalam pemilu 2014 , sehingga arena pemilu ini menjadi meriah dengan tingkat partisipasi terbaik.  Media internet menyediakan   Informasi tentang pemilu 2014 secara bebas dan akses berkomentar juga bebas. Ini menarik masyarakat dalam Pemilu.

Namun, sekalipun masyarakat pemilih bergairah, tapi masyarakat terbelah . Kelompok  masyarakat dari  koalisi merah putih dan  masyarakat dari koalisi Indonesia hebat  tampak bermusuhan.  Saling ejek, saling cakar dan saling menyakiti.  Hingga hari ini guratan luka dari  permusuhan itu   masih ada yang   tersisa dalam masyarakat.

Tidak dapat disangkal bahwa penggunaan  media internet dalam Pemilu 2014 telah mengubah  perilaku sebagian masyarakat kita.  Hasrat untuk menang dalam pemilu 2014 telah  membutakan hati dan adab  pihak-pihak tertentu. Mungkin saja, kemenangan calon Presiden yang diusung berkaitan dengan kepentingan ( bisnis, agama, kedudukan politik, hingga alasan misterius lainnya), bukan semata-mata bersifat ideologis.  Karena itu, ada yang  tidak segan-segan merusak kompetisi  dan merusak pesta demokrasi dengan menggunakan media sosial sebagai alat politik.  Informasi negatif seperti  ujaran kebencian, hasutan, SARA,  berita hoak, back campaign, money politic dan lainnya dengan mudah di viralkan. Ada yang mengambil kesempatan menjadikan  Pemilu  sebagai ajang pertikaian ideologis dan pembunuhan karakter pemimpin.  Pemilu yang seharusnya menjadi  sarana untuk merajut persatuan tapi menyisakan  rasa dendam, bahkan tidak sedikit antar teman atau sahabat, tetangga bahkan antar keluarga menjadi cekcok karena berbeda aspirasinya.

Akhirnya badai pun berlalu. Untung masa sulit itu tidak berlangsung  lama. Pemilihan Presiden 2014 selesai dan dimenangkan pasangan  Joko Widodo dengan Jusuf Kalla. Ketika pengumuman resmi  dari  KPU (Komisi Pemilihan Umum),  yang menyatakan bahwa  pasangan  Joko Widodo dengan Jusuf Kalla tampil sebagai pemenang, angin  politik Indonesia mulai berembus sejuk dan masyarakat politik mulai tenang. Pemilihan  Presiden  2014, dapat dikatakan berakhir damai, meskipun ada pihak-pihak tertentu yang merasa tidak puas dengan hasilnya.

Fenomena Pemilihan Presiden 2014 telah meninggalkan  jejak-jejak sejarah yang dapat dibaca ulang, tentu dengan harapan hal-hal negatif tidak terulang. Tulisan ini ditutup dengan harapan dan doa  agar pemilihan Presiden 2019 nanti berlangsung lebih damai, jujur, adil  dan bersih. Bangsa Indonesia sudah makin dewasa tentu  etika politik makin berkembang dan sikap toleransi makin menguat. Pilihan politik boleh berbeda dan perbedaan  politik  membutuhkan sikap toleransi.  Toleransi adalah keadilan tertinggi. Boleh berbeda tapi tidak boleh pecah.

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*