BELA NEGARA DAN KARAKTER BANGSA

Oleh : Varian Priyatama (10116276)

School of Enterpreneurship  and Humanities, Academic Year 2017-2018 odd, Universitas Ciputra Surabaya

Tulisan ini merupakan tugas penulisan individual dalam mata kuliah Civic di Universitas Ciputra. Berangkat dari asumsi  bahwa, warga negara yang berkarakter baik, sadar  bernegara (berkarakter kebangsaan)  akan rela berkorban untuk membela  negara, maka tulisan ini kuberi   judul  Bela Negara dan Karakter Bangsa. Dalam  tulisan ini  dikaitkan konsep Bela negara dan Karakter bangsa.  Karakter Bangsa masih diperbincangkan hingga hari ini dan Bela negara  masih merupakan suatu persolaan yang harus diberi perhatian penting di setiap masa.

Indonesia beragam, penduduknya berbeda suku, etnis dan agama yang tentu saja memiliki karakter masing-masing.  Dilihat dari struktur kependudukan,  Indonesia merupakan negara yang jumlah penduduk nya besar. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 mencatat, jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta jiwa dengan rata-rata angka pertumbuhan 1.6 dan rata-rata angka kematian 0.5. Dilihat dari aspek etnis, Indonesia termasuk negara yang sangat multi etnik dengan banyak sekali etnik yang tersebar dari Sabang hinngga  Merauke. Demikian pula dari aspek agama dan kepercayaan, Indonesia, termasuk masyarakat yang menganut banyak agama.Ada enam agama resmi negara, yaitu  Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Disamping itu, masih banyak sistem kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat.

Dengan keragaman bangsa Indonesia, Bela Negara merupakan salah satu  persoalan penting  kehidupan bangsa, sehingga masalah Bela Negara diamanatkan dalam  UUD 1945 (psl 30). Menyimak kondisi kekinian, persoalan bela negara masih menyisakan pekerjaan bagi kekuatan pertahanan dan keamanan Indonesia. Aksi-aksi terorisme yang mengunakan simbol-simbol keagamaan masih sering terjadi. Muncul gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang menarik bagi sebagian anak muda Indonesia. Mereka yang pernah belajar agama, dan Tidak mendalami agama dalam berbagai perspektif, tertarik dengan propaganda-propaganda jihad. Hal ini diperingatkan oleh Jenderal TNI Muldoko, bahwa Indonesia potensial untuk terpenetrasi gerakan ISIS, karena lapisan anak muda potensial gampang terpengaruh oleh propaganda, karena melihat kebenaran dari wacana tunggal tanpa menggunakan pemikiran kritis.  Jenderal Muldoko menyerukan agar Masyarakat, TNI dan Kepolisian RI bersama-sama mewaspadai gerakan ini agar bisa melakukan penangkalan sedini mungkin.

Bela negara kini  memasuki dua konsep inti yaitu :  pertahanan dan ketahanan nasional.  Pertahanan nasional ( national defence)  merupakan ranahnya TNI-POLRI yang terlatih secara professional. Ketahanan nasional ( national resilience) merupakan kewajiban bersama seluruh rakyat Indonesia. Ketahanan nasional harus diperkuat dalam berbagai bidang, terutama di  bidang  ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya (IPOLEKSOSBUD). Untuk memperkokoh ketahanan nasional, bangsa Indonesia harus memperkuat Karakter Kebangsaan sehingga secara bersama-sama terus membela negara  dengan kapasitas dan kompetensi masing-masing.

Martin Luther King pernah menyatakan sebuah ungkapan yang menarik. Ungkapan itu   berbunyi “intelligence plus character-that is the goal of true education.” Ungkapan King ini dapat dimaknai bahwa kepintaran saja tidak cukup, orang butuh karakter. Karakter sangat penting atau mungkin lebih penting. Anak   pintar  tidak memiliki karakter baik, dia akan menjadi petaka bagi bangsa, karena kepintarannya dapat  digunakan untuk merusak masyarakat.

Thomas Lickona (1991) seorang sarjana psikologi mempropagandakan perlunya dunia pendidikan  kembali ke pendidikan karakter.  Lickona menawarkan tujuh (7) karakter baik yang harus ditanamkan pada setiap anak didik, meliputi:

 

  1. Ketulusan hati atau kejujuran
  2. Belas kasih
  3. Kegagah beranian
  4. Kasih sayang
  5. Kontrol diri
  6. Kerja sama
  7. Kerja keras

Sementara itu, penelitian Dalmeri (2014) dari Universitas Indrapasta PGRI, Jakarta, mencatat adanya sembilan pilar karakter yang perlu ditegakkan dalam kerjasama sekolah, keluarga, masyarakat dan dunia usaha.  Sembilan pilar tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tanggungjawab
  2. Rasa Hormat
  3. Keadilan
  4. Keberanian
  5. Belas kasih
  6. Kewarganegaraan
  7. Disiplin diri
  8. Peduli
  9. Ketekunan

Menegakkan sembilan pilar karakter di atas menurut Dalmeri,  akan membuat anak Indonesia menjadi generasi tangguh, berdaya saing,  mampu mengolah kecerdasan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya,  yang pada akhirnya akan  menjadi produktifitas bangsa.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2010) telah merancang disain program pendidikan karakter yang didekatkan pada bingkai visi pendidikan nasional, sehingga menjadi empat kelompok besar, yaitu:

  1. Olah Hati
  2. Olah Fikir
  3. Olah Raga dan Kinestetik
  4. Olah Rasa dan Karsa

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membangun karakter bangsa merupakan hal yang urgen, terutama bagi  generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan bangsa ini.  Generasi muda yang terdidik, dan  memiliki karakter yang baik, sadar  berbangsa dan bernegara (berkarakter kebangsaan),  akan rela berkorban untuk membela  negara. Karakter Bangsa dan  Bela Negara dua entitas yang harus dipahami dan dihayati agar hidup kita sebagai bangsa  lebih maju dan lebih kuat. bangsa  Indonesia tidak  akan terpecah belah dan  NKRI tetap jaya.

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*