BUTA POLITIK

Bertalt Bercht  seorang penyair Jerman mengatakan bahwa buta yang terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik, tidak mendengar, tidak berbicara  dan tidak  berpartisipasi dalam peristiwa politik apapun. Mereka tidak  tahu bahwa biaya hidup , harga beras, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat,  semuanya tergantung keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh dan dungu  sehingga ia bangga dan membusungkan dada bahwa ia membenci politik. Si buta politik ini tidak tahu dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar dan pencuri terburuk dari semua pencuri yaitu koruptor yang merusak perekonomian  nasional dan meningkatkan  kemiskinan.

Semua yang mempelajari sejarah Indonesia paham bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia diawali oleh gerakan politik kaum cendikiawan. Kaum cendikiawan diorganisasikan dalam Boedi Oetomo yang mulai memikirkan kesatuan bangsa. Dalam berbagai peristiwa dapat pula kita pahami bahwa politik dapat membongkar pembunuhan yang tidak wajar, melawan ketidakadilan, melawan otoritarisme  penguasa. Politik adalah alat mengejar harkat hidup sebagai manusia.

Politik juga dipahami sebagai arena bermain untuk memperebutkan kekuasan sehingga  sangat terbuka terhadap berbagai kecurangan. Memang ada yang meletakkan politik di seberang moral. Kecurangan, pengkhianatan  bahkan pembunuhan  dihalalkan untuk mencapai tujuaan politik. Cara-cara tidak bermoral mendapatkan kekuasaan, membuat kekuasaan itu tidak aman. Seperti sejarah kekuasaan Ken Arok yang merebut kekuasaan di Tumapel dengan cara membunuh akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Tragedi Tumapel berbuntut panjang, melahirkan dendam turun temurun yang harus dibayar dengan pembunuhan demi pembunuhan.

Namun politik berbasis moral bukanlah  lumpur kotor yang harus dihindari. Politik adalah jalan menuju perjuangan kemanusiaan, karena yang penting dalam politik adalah kemanusiaan. Ayo, jangan buta politik.  Jangan berdiri dipinggir menjadi penonton ketika orang berjuang menegakkan keadilan.

 

 

 

About mardety mardinsyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*