Fenomena Cawapres 2014 JOKO WIDODO

Pemilu legislatif tanggal 9 April 2014 telah berlalu, dengan menyisakan proses perhitungan suara yang panjang yang diselimuti oleh rasa berjuta kekhawatiran para calon  legislatif atas kemungkinan kecurangan kecurangan yang terjadi disana sini.  Tentunya ada juga rasa deg deg kan para pelaku kecurangan atas kemungkinan terbongkarnya modus operandi yang dilakukan. Kemungkinan kecurangan itu dapat terjadi dimana saja dan oleh siapa saja, baik peserta, wasit maupun pengawas.Masyarakat hanya bisa membiarkan kecurangan kecurangan tersebut menjadi catatan sejarah, bahwa melaksanakan sebuah pesta rakyat yang jujur dan adil itu tidaklah semudah mengucapkannya.

Mari kita biarkan hal itu menjadi sejarah dan kita fokuskan perhatian kita menuju pemilihan presiden yang akan dilakukan pada 5 juli 2014 yang akan datang. Dari hasil sementara dari Quick count pemilu legislatif sudah diperoleh gambaran hasil masing masing partai politik terkait dengan quota yang harus dipenuhi agar dapat mencalonkan presiden dan wakil presiden. Yaitu perolehan 20 % suara dari seluruh suara sah pemilu legislatif atau 25 % perolehan kursi DPR. Dari angka angka tersebut sudah dapat direka reka siapa yang akan maju menjadi kandidat RI 1 dan RI 2.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah dapat memastikan pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden dari partainya setelah partai Nasional Demokrat (Nasdem) secara resmi menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Hasil perolehan suara PDIP yang mencapai 18.9 %  dan Partai Nasdem 6,9 % sehingga totalnya 26 % sudah mencukupi persyaratan yang ditentukan.

Selain nama Jokowi ada beberapa nama yang sudah beredar untuk dicalonkan sebagai presiden yaitu Prabowo subianto dan Aburizal bakri. Sedangkan nama nama lain yang sebelum pemilu legislatif sudah dideklarasikan oleh partainya, tenggelam bersamaan dengan hasil perolehan suara partainya yang kurang signifikan untuk memaksakan diri memajukan calon presiden dari partainya.

Belakangan ini banyak manuver manuver politik yang terjadi yang dilakukan oleh semua kandidat, semua partai dan semua orang yang merasa dirinya pantas untuk dijadikan kandidat presiden. Jokowi sebagai calon dari partai yang memiliki suara tertinggi dalam pemilu legislatif nampaknya memegang peranan penting. Selain hasil suara partainya yang tinggi, Jokowi juga merupakan sebuah figur yang fenomenal dalam percaturan politik di Indonesia. Sepak terjangnya sebagai eksekutor yang cepat tanggap mendapat perhatian khusus dalam hati masyarakat. Tutur kata yang apa adanya menyebabkan Jokowi menjadi media darling yang sulit di “blackcampaign” oleh lawan politiknya.

Sesuai dengan judulnya, tulisan ini akan memberikan kiat kiat yang harus dilakukan oleh para kandidat dan partai politik yang bersaing untuk kursi RI 1 dan R2  untuk mengalahkan Jokowi dalam pertarungan. Jurus sakti yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

JURUS 1 = BERSATU TEGUH

Untuk mengalahkan Jokowi, diperlukan kebersatuan dari seluruh partai yang tersisa yang belum mengajukan calon presiden untuk memajukan hanya 1 pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam pemilu presiden nanti, sehingga hanya terdapat 2 pasangan calon presiden dan wakil presiden yang bertarung dalam pemilu presiden nanti, yaitu pasangan yang diusung oleh PDIP yaitu Joko Widodo dan  wakil presidennya melawan pasangan calon dari 10 partai diluar PDIP dan Nasdem.

Dengan menggunakan jurus ini diharapkan seluruh kekuatan dapat dipadukan untuk menggalahkan Jokowi. Jurus ini pernah digunakan dalam pemilukada DKI Jakarta dimana FOKE dapat mengalahkan Adang Daradjatun yang diusung PKS dengan menjadikan Adang menjadi musuh bersama.

JURUS 2 = Mendahulukan kepentingan Kelompok diatas kepentingan Partai

Agar dapat mengalahkan JOKOWI, para pimpinan 10 partai yang tersisa harus memiliki prinsip mendahulukan kepentingan  kelompok diatas kepentingan partai. Maknanya adalah bahwa masing masing partai harus mendahulukan strategi pemenangan pemilu presiden diatas ambisi mereka untuk dimajukan sebagai calon presiden dari kelompok 10 Partai ini.

JURUS 3 = SURVEY ELEKTABILTAS CAPRES

Agar penentuan calon presiden dan wakil presiden dapat ditentukan dengan tepat, maka kelompok 10 partai ini harus meng- hire lembaga survey yang sangat kredible untuk menentukan siapa yang akan dimajukan sebagai calon presiden dan wakil presiden dari kelompok partai itu.  

Sebaiknya hasil survey ini dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dilaksanakan secara konsekwen tanpa adanya akal akalan. Karena dengan proses survey yang baik akan menghasilkan kesimpulan yang sangat tepat.

JURUS 4 = BAGI HASIL SESUAI HASIL

Fairness didalam koalisi besar ini harus benar benar dimanage dengan baik, karena semua merasa memiliki porsi yang pantas untuk mendapatkan porsi porsi yang tersedia, baik kursi kementerian maupun penguasaan terhadap kekuasan eksekutif lainnya yang dapat dibagi seperti jabatan di BUMN atau lembaga lembaga lain.

Yang mendapatkan mendorong terjadinya fairness ini adalah kerugian yang akan diterima jika berkoalisi dengan Jokowi yaitu bahwa strategi dan track record Jokowi yang tidak memberikan peluang untuk bagi bagi posisi menteri jika melakukan koalisi dengan PDIP. Jadi jika para partai memberikan dukungan kepada Jokowi, sangat kecil kemungkinan  Jokowi memberikan jatah menteri kepada partai pendukungnya tersebut. Jika ada porsi untuk menteri yang bisa diisi oleh personal yang belatarbelakang kader partai politik, Jokowi tentunya akan lebih mendahulukan kader PDIP. Tapi menyimak apa yang pernah diucapkan  Jokowi, maka para profesional lebih mendapatkan tempat untuk mengisi posisi posisi tersebut. Selain bertitelkan profesional, Jokowi benar benar menuntut hasil yang optimal dari setiap menteri yang akan ditunjuknya.

Dengan melihat hal tersebut, tidak ada salahnya saling dukung dan menghargai diantara para anggota koalisi besar lawan Jokowi terutama dalam hal bagi bagi kursi menteri tersebut.

JURUS 5 = NO MORE BLACKCAMPAIGN

Jangan lakukan blackcampaign. Penting diingat bahwa Jokowi memiliki karakter khusus yang memiliki self resistensi terhadap blackcampaign yang di tujukan  pada dirinya. Sebagai sosok media darling, Jokowi selalu saja akan mendapatkan nilai point dari setiap  black campaign yang dilakukan  lawan politiknya.

JURUS 6 = Karakter yang Tepat

Dalam memilih calon presiden dan wakil presiden yang akan diusung Koalisi besar lawan Jokowi, harus benar benar melakukan analisa yang tepat, agar tokoh yang diajukan benar benar bisa mengimbangi karakter Jokowi yang sudah mendapat stempel “tukang blusukan”, tokoh bersih dan jujur yang didambakan masyarakat Indoensia sekarang ini. Jabatan sebagai pimpinan partai politik, atau kedekatan maupun hubungan famili dengan pimpinan Partai tidak boleh dipaksakan untuk memilih Calon presiden dari koalisi  besar ini.

Calon yang dipilih harus benar benar terlepas dari stigma Nepotisme dengan pimpinan partai, harus benar benar profesional,  dan tentunya bebas dari indikasi kejahatan kepemimpinan, seperti korupsi dan penyalahan wewenang.

JURUS 7 = LAPANG DADA

Jurus pamungkas dari semua jurus diatas adalah jurus berlapang dada. Jurus ini benar benar harus dipahami secara mendalam.  Yaitu bahwa seluruh kekuatan yang menjadi lawan politik Jokowi harus benar benar berlapangan dada, bahwa kecil kemungkinan untuk dapat mengalahkan Jokowi, jika jurus 1 sampai jurus 6 tidak dapat dilakukan secara sempurna dan konsekwen. Jika diantara Koalisi besar ada ingin mendukung Jokowi dengan harapan  mendapatkan jatah kursi menteri, sementara jatah kursi yang diharap tidak akan kunjung datang pakai juga Jurus lapang dada.

Sekian dulu jurus singkat yang dapat dilakukan untuk mengalahkan Jokowi dalam pemilu presiden 2014. Dilain waktu akan penulis kupas secara detail masing masing jurus, menyertai perkembangan politik yang akan terus bergulir sampai pelaksanaan pilpress tanggal 5 Juli 2014 nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*