Cara Baru Memaknai Legenda Malin Kundang

Anak laki-laki yang diceritakan dalam legenda  ini bernama   Malin Kundang.  Ia  berasal dari IMG-20130309-00475keluarga miskin, lahir  di sebuah desa dipinggir pantai Kota Padang. Malin Kundang  dibesarkan oleh ibunya, sementara ayahnya sudah tiada.  Tekad untuk merubah nasib, meraih kehidupan yang lebih baik, membangun niatnya  untuk pergi  merantau. Suatu hari di  pantai Air Manis, kota Padang, berlabuh  sebuah kapal asing .  Malin Kundang   diiringi doa  ibunya, ikut berlayar  bersama kapal tersebut. 

Berkat semangat , keuletan, ketekunan dan ketangguhan    dalam  bekerja,  Malin Kundang  di perantauan  meraih sukses besar. Malin Kundang  kaya raya.  Kemudian  pulang kampung  bersama istri dengan   kapalnya yang indah. Kapal Malin Kundang   berlabuh di tempat dulu dimana dia dilepas ibunya pergi berlayar. Ketika kapal yang indah itu merapat ke dermaga, penduduk berduyun-duyun datang untuk melihat, termasuk  ibu Malin Kundang. Ketika melihat ibunya telah  tua  renta, sangat  miskin  dan melarat, Malin Kundang tidak mengakui itu  ibunya. Ibu Malin Kundang terguncang hebat ketika menyadari bahwa anaknya tidak mengakuinya sebagai ibu. Hati yang pedih dibawanya berdoa, memohon  kepada Tuhan  agar  menurunkan kutukan kepada anaknya itu. Doa ibu itu terkabul, kapal Malin Kundang dihempas badai dan  Malin Kundang menjadi batu.

Tidak jelas siapa   mengarang cerita  ini. Kisah Malin Kundang  menjadi legenda yang hidup di Minangkabau, Sumatera Barat. Kisah ini dituturkan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi.  Kisah ini dimaknai sebagai  nilai-nilai  hidup yang harus dihayati dalam masyarakat Minangkabau. Kisah Malin Kundang mengandung nilai nilai agama dan nilai-nilai tradisi, sesuai dengan prinsip   “ adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”   yang menjadi falsafah  masyarakat Minang.

Sebagai cerita  rakyat,  legenda ini  disampaikan secara lisan yang tentu banyak mengalami berbagai reduksi. Dan sebagai legenda belum tentu ada kebenarannya. Namun  oleh masyarakat Minangkabau, dianggap benar-benar terjadi.  Batu  yang terletak di pantai Air Manis, kota Padang, dilihat sebagai sosok Malin Kundang yang telah menjadi batu. Batu itu disebut sebagai batu Malin Kundang.

Legenda Malin Kundang pernah  di tulis dalam bentuk Drama ( Wisran Hadi),   cerita pendek ( A.A. Navis ) dan  berbagai bentuk  tulisan di media massa, termasuk dalam  situs –situs internet. Dari berbagai tulisan tersebut tidak ada makna lain bagi Malin Kundang  selain  Malin Kundang anak durhaka.  Tafsir karakter Malin Kundang sebagai anak durhaka melekat dalam pikiran masyarakat dan menjadi fenomena budaya. Kebenaran tunggal yang telah diberikan pengarang  kepada Malin kundang tidak pernah berubah sampai kini.   

Makna dibalik legenda ini telah menjadi media pendidikan masa lalu yaitu menanamkan nilai-nilai moral  pada anak.  Pada masa lalu dalam strukturalisme  pendidikan anak harus mengikuti struktur yang ada. Anak  dibentuk  dan dibimbing memasuki pengetahuan dan pengalamanan  hidup tapi  harus meletakkan keyakinannya diantara keyakinan yang telah dikukuhkan masyarakat. Bila anak memiliki keyakinan berbeda, itu dianggap durhaka. Anak-anak harus menghadapi garis lurus yang tunggal dalam hidupnya dan  diharuskan mengikuti garis lurus itu tanpa membantah. Bila membantah, Tuhan  didatangkan dalam hidup anak dengan kaki yang menginjak ( dikutuk). Anak menjadi takut dan tidak bahagia.  Keyakinan masyarakat ditaklukan oleh struktur budaya.

Hidup dikuasai struktur menjadikan  anak laksana arus  hulu yang tercurah tidak bisa menentukan hilirnya sendiri. Dunia orang dewasa dipenuhi oleh berbagai kekhawatiran, karena arus hulu yang tercurah itu dapat  menjadi sungai yang  deras  atau  tersangkut di waduk-waduk, yang akhirnya bermuara dalam  kehidupan yang sia-sia.   

Hal–hal yang menyangkut nilai-nilai kehidupan seharusnya tidak boleh diterima begitu saja, tapi harus dikritisi.  Pendidikan harus ditujukan untuk mempersiapkan anak menjadi manusia dan warga yang bebas.  Dengan membawa satu kebenaran yang tidak boleh berubah, membuat anak terperangkap dalam dogma beku dan fanatisme yang berlebihan. Anak sulit membangun argumentasi dan tidak mampu melakukan artikulasi.  Hasil yang akan dituai adalah kualitas SDM yang tidak pernah membanggakan.

Cara berpikir masyarakat dewasa ini memang telah berubah, tapi ada yang sensitive terhadap perubahan, ada yang tidak peduli dan ada yang tidak mau berubah. Dalam menghadapi berbagai problema kehidupan  sekarang ini, masyarakat dapat digolongkan atas tiga kelompok yaitu:

1.     Kelompok yang melihat problema kehidupan masa kini dengan cara berpikir lama

2.     Kelompok yang melihat problema dengan cara berpikir baru

3.     Kelompok yang melihat problema dengan cara berpikir baru tapi tetap mempertimbangkan cara berpikir lama.

Salah satu cara berpikir baru adalah tidak menerima lagi makna  tunggal, baik dalam ilmu pengetahuan, cara berpikir dan tradisi. Muncul semangat membongkar makna-makna lama dan membangun  makna-makna baru yang bermanfaat untuk kehidupan di masa kini. Pembongkaran makna disebut dekonstruksi.  Menurut Derrida filsuf Perancis, tidak ada yang tidak bisa dekonstruksi. Dekonstruksi perlu untuk menghindarkan sikap otoritarian dan  membuat teks atau konteks kehidupan bersikap terbuka bagi berbagai kemungkinan perubahan. Tata kehidupan yang selama ini dipandang ideal, otentik,  tidaklah tabu untuk dipersoalkan, apakah masih relevan dengan kemajuan zaman.  Aspirasi utama dekonstruksi adalah kebebasan, bebas untuk menolak suatu tatanan yang telah mapan,menolak kemurnian identitas atau institusional yang telah dilegitimasi, bahkan menolak kompetensi pengetahuan dan ketarampilan.

Atas dasar hal di atas, gambaran makna selama ini bahwa  Malin Kundang anak durhaka, bisa dibongkar atau didekonstruksi.   Berbekal cara kerja dekonstruksi  Jacques Derrida, dengan membuka  hal-hal tersembunyi  ditemukan  makna versi lain, yaitu Malin Kundang bisa dilihat bukan sebagai anak durhaka, tetapi perantau Minang yang sukses,  sehingga  Malin Kundang terlihat sebagai sosok teladan dalam  membangun identitas diri   dan menghapus kemiskinan.

 Dengan makna baru terhadap  Malin Kundang, kita dapat mengatakan bahwa tekad untuk merubah nasib, meraih kehidupan yang lebih baik, mendorong  Malin Kundang membuat keputusan   untuk pergi  merantau seorang diri tanpa modal  dan tujuan yang pasti. Sikap  ini tidak terlepas dari pengaruh sistem matriarchat di Minangkabau. Anak laki-laki di Minangkabau tidak berhak memiliki harta pusaka dari ibunya, karena harta itu diwariskan untuk anak perempuan. Anak laki-laki harus mencari kehidupannya sendiri. Muncul sikap dan  tradisi merantau yang diungkapkan dengan petitih,   “ merantau buyung dahulu, dikampung belum berguna”.

Keputusan  Malin Kundang pergi merantau dan sukses  dapat dimaknai, bahwa “merantau” merupakan nilai tradisi  yang  masih relevan untuk masa kini dan memiliki makna baru bagi  pendidikan. Anak muda perlu mandiri, perlu berani dan perlu mencaritahu apa yang membuat orang  sukses. Apakah modal besar yang   bisa membuat  sukses ?, atau modal kecil justru yang bisa membuat  sukses ?, atau kepintaran bisa membuat sukses ?.  Banyak orang yang gagal karena modal  kecil, tapi  banyak juga yang  gagal walau punya modal besar. Yang penting harus punya mimpi dan jangan berhenti untuk mengejar impian itu. Bila gagal, tidak perlu terkapar seperti ikan di daratan. Raih  berbagai kesempatan yang muncul di depan mata. Kegagalan bukanlah suatu kesalahan, yang salah adalah bila  tidak bangkit (terpuruk)  ketika mengalami kegagalan.  

Bandingkan dengan makna lama dari legenda Malin Kundang mengenai pendidikan. Dalam makna lama tersirat pesan bahwa anak-anak harus menghadapi garis lurus yang tunggal dalam hidupnya dan  diharuskan mengikuti garis lurus itu tanpa membantah. Bila membantah, Tuhan  didatangkan dalam hidup anak dengan kaki yang menginjak.   Anak tidak kreatif dan terbelenggu dalam dogma usang yang tidak sesuai lagi dengan zaman.

Makna baru dari kisah Malin Kundang dapat pula disampaikan bahwa  kemiskinan bukan hambatan untuk meraih sukses.Meraih kesuksesan cukup dengan  ide sederhana,  yang dijalankan dengan eksekusi yang baik, fokus dan konsisten plus perbaikan terus menerus tanpa henti. Walau punya ide  revolusioner tapi tidak dieksekusi dengan baik sering membawa kegagalan.   Melihat Malin Kundang dari sisi ini,  akan sangat inspiratif bagi anak muda. Sikap yang ditunjukkannya  memberi pencerahan bagi perjuangan anak muda dalam mengharungi samudra kehidupan yang  sangat kompleks dan penuh ketidakpastian seperti sekarang ini.

Setelah Malin Kundang berhasil menjadi pedagang kaya raya dia kembali ke kampung halamannya, mendeklarasikan identitasnya yang baru , yaitu   Malin Kundang  yang   kaya raya. Hal ini akan membuat bangga ibu dan  kaumnya. Dalam sistem matriarchat, anak dihitung dari garis ibu, pimpinan masyarakat dipegang oleh laki-laki. Laki-laki di Minangkabau adalah pemimpin, minimal pemimpin dalam kaumnya (suku). Laki-laki Minang banyak terlibat dengan kehidupan kaumnya, sementara di tempat isteri dan anak-anaknya dia dihitung sebagai tamu  .

Pulang kampung setelah sukses  merupakan keniscayaan bagi laki-laki Minangkabau. Bila  memiliki kapital ekonomi yang kuat, maka  kapital sosial akan datang dengan sendirinya dan selanjutnya akan menjadi  kapital simbolik buat kaumnya. Kapital identik dengan kekuasaan. Memiliki kapital berarti memiliki kekuasan  untuk membentuk   identitas baru. Dalam petitih Minangkabau anak yang sukses diungkapkan sebagai , “ paapuih tareh tabanam dan paapuih malu dikaniang”. ( artinya : membangkitkan keterpurukan keluarga, karena kemiskinan atau hinaan).    

 Indonesia dalam era reformasi, terutama dalam sistem otonomi daerah,    lahir  motto “Putra Daerah”.   Bila ada  perantau Minang yang   sukses ( Malin Kundang abad 21),  dia  akan diminta pulang kampung , didaulat untuk   menjadi kepala daerah atau anggota legislative.

Membongkar gambaran  makna dalam legenda Malin Kundang dan menghadirkan hal-hal yang tidak hadir seperti diuraikan di atas, maka dapat ditampilkan  tafsir   baru karakter Malin kundang. Malin Kundang  bukan lagi sebagai anak durhaka tetapi hadir sebagai perantau Minang yang sukses. Dia dapat dijadikan teladan, karena  berhasil membangun identitas diri  dan menghapus kemiskinan.

Masyarakat kita tidak kritis, terbiasa menelan mentah-mentah  apa yang disodorkan. Oleh karena itu,  kita jarang mendengar  tafsir  yang berbeda dari sebuah legenda, seperti legenda Malin Kundang. Tafsir karakter Malin Kundang sebagai anak durhaka telah melekat dalam pikiran masyarakat. Kisah ini  dikontruksi oleh pengarang dengan tujuan menanamkan nilai-nilai moral kepada anak, tapi itu cara-cara kuno yang tidak sesuai zaman.

Meyakini makna terjalin dari penanda-penanda yang tersembunyi dari suatu teks, dalam legenda Malin Kundang seperti kesuksesannya di perantauan, pulang kampung membangun identitas baru, maka   gambaran makna tentang Malin Kundang sebagai anak durhaka dapat didekontruksi.  Makna baru dibalik legenda ini adalah  Malin Kundang perantau sukses.  Makna baru ini dapat dijadikan media pendidikan bahwa  anak perlu  hidup mandiri.  Anak dididik mampu membangun visi  sendiri dan menjalankan  visi itu dengan eksekusi yang baik, fokus dan konsisten plus perbaikan terus menerus tanpa henti.

 

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Mantap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*