Be a Part of World Society

0leh : Yuli Deviani

oma 089

Globalisasi, kata yang sering kali kita dengar pada zaman ini. Renaisans, revolusi industri, dan  perang dingin AS –Uni Sovyet , telah melahirkan berbagai peristiwa yang  mengubah wajah dunia. Kini  globalisasi membuka tirai pertunjukan baru untuk masuk ke dunia tanpa batas, dimana  kita menjadi warga  dunia, sehingga ius soli  tak penting lagi  karena tanah lahir kita adalah bumi which is mean dunia.

Globalisasi, secara bahasa berarti global atau  mengglobal dimana  batasan 0batasan yang dibuat manusia seperti  wilayah, negara,  warga, bangsa dan bahkan budaya akan menghilang. Negara-negara  di dunia akan merger menjadi satu :  satu kesatuan politik, ekonomi dan keamanan. Negara  dan  kedaulatan bukan  subjek penting  dalam globalisasi.Hal ini setidaknya terbukti dalam Pemilu Presiden di Taiwan baru-baru ini, dimana calon Presiden yang mengusung ide kedaulatan negara kalah total oleh calon Presiden yang mengusung ide Globalisasi ( tetap bergabung dengan RRC).   

Namun begitu, manusia adalah makhluk sejarah,  siapa  nenek moyang kita, tetap menjadi  akar sejarah dan akar budaya  kita. Ius soli ( warga negara  berdasarkan tempat lahir)  memang bisa dikesampingkan tapi ius sanguinis (warga negara  berdasarkan keturunan darah / biologis  ) tetap akan  akan menjadi identitas warga. Hal  Ini akan menjadi sebuah l keunikan bagi seseorang yang dibawa untuk menjadi suatu identitas baru bernama warga dunia.  Contoh nyata dimana ius soli bukanlah hal yang penting,             terlihat pada   suku Tionghoa/Cina  , mereka  menyebar ke berbagai penjuru dunia, berbaur dengan masyarakat di tempat dimana ia berada , mereka tetap disebut suku Tionghoa /Cina, karena budaya dan jati diri nenek moyang dalam diri mereka tidak luntur. Contoh lain yang lebih eksplisit adalah negara-negara metropolitan seperti Singapura dan Australia, yang  warganya  telah siap    menjadi warga dunia, sehingga kepentingan golongan, suku, ras, maupun kasta tidak lagi menjadi persoalan.   Masyarakat yang tinggal di Australia begitu beragam, banyak di antara mereka adalah orang Asia bermata sipit, Asia Melayu yang berkulit  sawo matang ,hingga orang  Negro  dan Eropa, semua berbaur,  mereka mampu menghormati perbedaan adat istiadat, perbedaan budaya dan kebiasaan, bahkan  menciptakan akulturasi budaya yang tampak dalam  arsitektur, seni, dan kuliner .

Namun dibalik ini semua, membangun satu kesatuan warga dunia  pasti  ada harga kemanusiaan  yang harus dibayar. Bila kembali kita tengok Australia, Negara maju berbudaya globalisasi, terdapat pihak yang menjadi korban. Suku Aborigin, penduduk pribumi Australia  menjadi komunitas  yang tersingkirkan, miskin dan tidak mendapat akses yang layak  dalam berbagai bidang kehidupan.  Pernahkah kita lihat orang Aborigin, yang berkulit hitam ke merah-merahan  berbelanja di shopping center terkemuka di Melbourne, menonton pertunjukan opera di opera house Sydney  atau untuk mengenyam pendidikan di sekolah –  sekolah terkemuka di Adelaide ?. Sejak  pendatang menguasai benua Australia pada  abad ke 18, suku ini malah  punah dari masa ke masa. Paling yang tersisa sekarang ini  sebagai  peninggalan budayanya adalah  boomerang.  Cara membangun dunia yang maju seperti ini sesungguhnya merusak kemanusiaan dan  merugikan dunia secara budaya. 

Seiring berjalannya globalisasi, kepunahan seperti suku Aborigin perlu diwaspadai. Dalam system tanpa batas, tentu   tidak diinginkan hilangnya  Negara  bangsa tempat berlindung dan punah budaya –budaya bangsa  karena disapu oleh  budaya yang mendominasi dunia. Yang paling penting diawasi adalah jangan sampai muncul paham dunia bahwa bumi adalah milik bersama, milik human being, sehingga tidak ada lagi  sumber daya alam yang dapat  dimiliki oleh suatu negara bangsa, karena dapat  direbut oleh negara yang kuat, seperti yang terjadi di Papua dengan gunung emasnya, Negara Irak dengan sumber minyak buminya dan lain lain.  Kekayaan suatu negara   dikeruk oleh  bangsa lain untuk kemakmuran negaranya, karena mereka memiliki capital. Kapital terus bergerak seperti kuda liar yang sulit dikendalikan sehingga seluruh dunia dilanda kapitalisme. Dalam  sistem  kapitalisme  berlaku  hukum rimba dimana yang  kuat yang akan  menang.  

Dalam dunia tanpa batas, dimana  kita menjadi warga  dunia, dalam lipatan waktu ke depan, (mungkin seabad lagi ) masih adakah negara bangsa yang bernama Indonesia dengan isinya  suku dan budaya Melayu, Betawi, Jawa, Dayak dan  Papua ? atau mengalami kepunahan seperti budaya suku Aborigin di Australia.   Pertanyaan penting yang perlu kita sematkan  ke dada kita para pemuda :  siapkah kita menghadapi globalisasi, berevolusi menjadi warga dunia, berinteraksi dengan berbagai bangsa tanpa kehilangan jati diri kita sebagai bangsa dan mampu memberi warna pada dunia.  Pertanyaan ini harus dijawab dengan  kerja  keras, pantang menyerah dan menjadi individu yang kokoh dan bisa  bertahan dalam  persaingan politik, ekonomi dan budaya dalam dunia tanpa  batas.

  Devi Yuliani mahasiswi ITB Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*