Menyambut Kurikulum 2013

Menanamkan pendidikan karakter bangsa adalah suatu prioritas pendidikan kita. Tujuan nasional pendidikan sekalipun dirumuskan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dalam kalimat yang panjang, tapi pada pada intinya tujuan pendidikan adalah  pendidikan karakter. Sekalipun  pendidikan karakter telah menjadi tujuan pendidikan, namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Sehingga kita menghadapi banyak persoalan di bidang  pendidikan.

Banyaknya persoalan di bidang pendidikan perlu menjadi  perhatian kita semua,  khusus oleh pemerintah. Pasalnya Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau education for all (EFA) di Indonesia menurun tiap tahunnya. Tahun 2011 Indonesia berada diperingkat 69 dari 127 negara dan merosot dibandingkan tahun 2010 yang berada pada posisi 65. Indeks yang dikeluarkan pada tahun 2011 oleh UNESCO ini lebih rendah dibandingkan Brunei Darussalam (34), serta terpaut empat peringkat dari Malaysia (65).

Masalah pendidikan di  Indonesia merupakan masalah  yang komplek. Selain angka putus sekolah, pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lain, mulai dari buruknya infrastruktur hingga kurangnya mutu guru. Masalah utama pendidikan di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah, kualitas dan kualitas infrastruktur yang belum memadai. Dalam dunia pendidikan, guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.

 

Secara umum, kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini dari 2,92 juta guru baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1. Begitu juga dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat sertifikasi sedangkan 861.670 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi.

Dari segi penyebarannya, distribusi guru tidak merata. Kekurangan guru untuk sekolah di perkotaan, desa, dan daerah terpencil masing-masing adalah 21%, 37%, dan 66%. Sedangkan secara keseluruhan Indonesia kekurangan guru sebanyak 34%, sementara di banyak daerah terjadi kelebihan guru. Belum lagi pada tahun 2010-2015 ada sekitar 300.000 guru di semua jenjang pendidikan yang akan pensiun sehingga harus segera dicari pengganti untuk menjamin kelancaran proses belajar.

 Dalam menjawab persoalan pendidikan, maka Kemendikbud mengganti  kurikulum dan mengeluarkan kurikulum baru yang disebut dengan   bagi Kurikulum 2013. Kurikulum ini telah disosialisasikan kepada masyarakat dan siap dilaksanakan pada bulan juni mendatang. Dalam sosialisasi dihadapan berbagai kelompok masyarakat ternyata kurikulum baru ini banyak ditimbun  kritik. Ada dugan bahwa kehadiran  kurikulum baru tidak murni memenuhi kebutuhan pendidikan, tetapi ada proyek besar yang bisa menggelapkan mata.

 Masalah lain yang menjadi keberatan masyarakat adalah  seringnya ganti kurikulum pendidikan akan membuat proses belajar mengajar terganggu. Karena fokus pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan berganti mengikuti adanya kurikulum yang baru. Terlebih jika inti kurikulum yang digunakan berbeda dengan kurikulum lama sehingga mengakibatkan penyesuaian proses pembelajaran yang cukup .

Kalau kita berorintasi ke depan, maka terlihat sisi pentingnya perubahan kurikulum yaitu untuk  perbaikan pendidikan dan menanggapi perubahan zaman. Kurikulum harus dikembangkan sesuai perubahan zaman. Perkembangan  dunia computer mempengaruhi pendidikan, perubahan   kurikulum ini mempersiapkan masa depan generasi baru.

Dalam kurikulum 2013  mata pelajaran agama ditambah menjadi empat jam. Ini dimasudkan untuk meningkatkan kualitas akhlak anak didik. Hal ini juga dapat dipertanyakan, apakah penambahan kuantitas jam belajar agama akan meningkatkan kualitas akhlak? Mari kita Lihat dan tunggu !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*