Pidato Bung Karno 1 Juni 1945

Pengantar

Dalam  catatan sejarah pidato Bung Karno 1 Juni 1945 pernah diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Namun kita memiliki catatan sejarah yang sensitif bila membahas mengenai kapan sebenarnya Pancasila itu lahir. Maka itu, pada tanggal 1  Juni 2011   MPR RI melaksanakan Peringatan Pidato Bung Karno  tanggal 1 Juni  1945 bersama Presiden Republik Indonesia  DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono .

Sesungguhnya, catatan sejarah sudah perlu dibenahi sungguh-sungguh untuk  membangun peradaban bangsa yang bersih dari prasangka dan kepentingan-kepentingan politik tertentu. Bangsa ini akan berjalan sepanjang masa ,  sehingga penting bagi kita untuk  membuat semuanya  lurus dan bersandar pada objektivitas sejarah. Catatan objektif sejarah bangsa penting untuk  diwariskan kepada generasi muda sehingga arus globalisasi tidak menghanyutkan mereka  ke arah yang tidak jelas.

KRONOLOGI SEJARAH

Bila kita mengurai sejarah perjuangan kemerdekaan, untuk merealisasikan sebagian janji kemerdekaannya, pemerintah pendudukan Jepang pada tanggal 29 April 1945 membentuk Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai(BPUPKI).

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia inii beranggotakan 68 orang dengan ketua Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

BPUPKI bersidang pertama kali pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 yang membahas bentuk, batas, dan dasar negara. Pada hari pertama sidang, Dr. Radjiman meminta para anggota sidang untuk menyampaikan pandangan mengenai Dasar Negara. Permintaan ini pada hari pertama tanggal 29 Mei dipenuhi oleh Mr. Muhammad Yamin yang mengemukakan secara lisan butir-butir dasar negara tersebut:

  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri kemanusiaan
  3. Peri ketuhanan
  4. Peri kerakyatan, dan
  5. Peri kesejahteraan rakyat

Namun secara tertulis, Mr. Muhammad Yamin mengusulkan:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
  3. Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam   permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Soepomo menyampaikan butir-butir nilai yang diusulkannya menjadi dasar negara:

  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Keseimbangan lahir dan bathin
  4. Musyawarah
  5. Keadilan Rakyat

Sementara pada hari terakhir sidang, Ir. Soekarno berpidato lima dasar negara:

  1. Kebangsaan

2.   Internasionalisme  atau Perikemanusiaan

3.   Mufakat dan  Demokrasi

4.   Kesejahteraan sosial

5.  Ketuhanan yang maha Esa

Kemudian Ir. Soekarno menyampaikan nama yang tepat untuk kelima dasar negara yang disampaikan. Atas petunjuk seorang teman yang ahli bahasa, nama kelima dasar itu adalah Panca Sila. Panca artinya lima sedangkan sila artinya asas atau dasar, dan dinyatakan bahwa di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.

Dilanjutkan Bung Karno, kelima dasar itu dapat diperas menjadi tiga dasar Indonesia merdeka, semacam weltanschauung kita, yaitu;

–          Sosio-nationalisme

–          Sosio-demokratie

–          Ke-Tuhanan

Dan bila diperas lagi menjadi satu dasar saja, ia menjadi Gotong Royong. Pidato Bung Karno inilah yang selama ini menjadi alasan kita memperingati 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

Setelah sidang pertama  BPUPKI tersebut, dibentuklah panitia kecil yang terdiri dari  delapan  orang  yang diketuai oleh Ir.  Sukarno, dan anggota-anggotanya adalah   M. Hatta, Sutardjo Kartohadikusumo, Wahid Hasyim ,Ki Bagus Hadikusumo, Otto Iskandardinata,  M. Yamin, AA Maramis. Panitia kecil ini bertugas menampung saran-saran, usul-usul dan konsepsi-konsepsi para anggota yang oleh ketuanya telah diminta untuk diserahkan melalui sekretariat.

Panitia kecil seperti yang dilaporkan oleh ketuanya,  pada tanggal  22 Juni 1945 mengambil prakarsa untuk mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI yang sebagian diantaranya sedang menghadiri sidang Cuo Sangiin (sebuah badan penasehat yang dibentuk oleh pemerintah Pendudukan Jepang). Pertemuan ini oleh Ir. Sukarno ditegaskan merupakan ” rapat pertemuan antara Panitia Kecil  dengan anggota yang diambil dari anggota   Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai “  pada pertemuan ini telah ditampung  lebih lanjut saran-saran dan usul-usul lisan dari pihak anggota BPUPKI.

Pada pertemuan tersebut dibentuk sebuah panitia kecil lain  yang kemudian dikenal dengan sebutan Panitia Sembilan  yang terdiri dari: Ir. Sukarno, M. Hatta, AA. Maramis, Abikusno Tjokrosujono,H. Agus Salim,Achmad Subardjo, K.H. Wahid Hasyim,A. Kahar Muzakir, M. Yamin. Panitia Sembilan dibentuk untuk mencari modus antara apa yang disebut ” golongan Islam ” dengan apa yang disebutkan ”golongan kebangsaan”  mengenai soal agama  dan negara. Panitia kecil ini  berhasil mencapai modus itu yang diberi bentuk suatu rancangan pembukaan hukum dasar . Inilah yang kemudian dikenal dengan nama  PIAGAM JAKARTA (22 Juni 1945). Dalam Piagam Jakarta termaktub rumusan Dasar Negara  yang berbunyi sebagai berikut :

  1. Ke- Tuhanan dengan  kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi para Pemeluknya
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Sampai dengan rapat pada tanggal 17 Juli 1945, Piagam Jakarta masih masuk draft UUD. Lalu pada tanggal 7 Agustus 1945 dibentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang beranggotakan 21 orang dengan Ketua  Ir. Soekarno dan Wakil Ketua Drs. M. Hatta .

Sore hari pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaan, M. Hatta menerima utusan dari Indonesia Timur yang menyatakan isi sila pertama sebagaimana Piagam Jakarta tidak mewakili mereka sehingga kemungkinan mereka  akan melepaskan diri dari negara Indonesia yang belum sehari merdeka. Oleh karena itu PPKI  pada tanggal 18 Agustus 1945 memutuskan:

  1. mengesahkan Undang-Undang Dasar,
  2. memilih dan mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Drs. M. Hatta sebagai Wakil Presiden RI,
  3. membentuk Komite Nasional untuk membantu tugas presiden sebelum DPR/MPR terbentuk.

Berkaitan dengan UUD, terdapat perubahan dari materi yang dihasilkan oleh BPUPKI, antara lain:

  1. Kata Muqaddimah diganti dengan kata Pembukaan.
  2. Pada pembukaan alenia keempat anak kalimat Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa.
  3. Pada pembukaan alenia keempat anak kalimat “Menurut kemanusiaan yang adil dan beradab” diganti menjadi “kemanusiaan yang adil dan beradab”.
  4. Pada pasal 6:1 yang semula berbunyi Presiden ialah orang Indonesia Asli dan beragama Islam diganti menjadi Presiden adalah orang Indonesia Asli.
  5. Sejalan dengan usulan kedua, maka pasal 29 pun berubah.

ARGUMENTASI AKADEMIS

Seperti telah disebutkan di atas bahwa  Pidato Bung Karno   1 Juni 1945 tersebut pernah diperingati sebagai Hari lahir Pancasila, tetapi  melahirkan perdebatan, maka  dalam persidangan MPR  tahun 2002 masalah lahirnya Pancasila kembali dipersoalkan. Melalui Kepres no.18 tahun 2008 di tetapkan tanggal 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi, dimana hal ini pahami oleh pihak-pihak tertentu sebagai Hari Lahir Pancasila.  Deklarasi pencanangan 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi ditandatangani oleh pemimpin MPR, DPR, DPD periode 2004-2009.

Menilik kenyataan sejarah, maka tercatat secara jelas bahwa Rapat   BPUPKI  yang dimulai tanggal 29 Mei hingga tanggal 1 Juni 1945 adalah rapat untuk membahas Dasar Negara, Bentuk Negara dan Batas Negara. Rapat BPUPKI yang dipimpin oleh Dr. Radjiman ini pada tanggal 29 Mei ( Hari Pertama Rapat) langsung membahas Dasar Negara bagi negara Indonesia yang akan merdeka. Dr. Radjiman meminta kepada peserta Rapat untuk memberi pandangan mengenai Dasar Negara. Ada tiga orang peserta Rapat BPUPKI yang memenuhi permintaaan ketua Rapat tersebut yaitu : Mr. Muhammad Yamin ( berpidato pada tanggal 29 Mei  1945) Prof. Mr. Soepomo ( berpidato pada tanggal 30 Mei 1945 ) dan Ir. Soekarno (berpidato pada tanggal 1 Juni 1945).   Masukan mereka sebagaimana sudah dibahas dalam kronologi sejarah di atas, tentu dilihat sebagai konsep  Dasar Negara  Indonesia yang memerlukan pembahasan lebih lanjut.

Bila ditelaah konsep-konsep yang diusulkan oleh ketiga Founding Fathers ini untuk Dasar Negara dalam Rapat BPUPKI tersebut pada hakikat mengandung prinsip-prinsip yang sama sekalipun dalam urutan-urutan yang berbeda. Namun secara kronologis Ir. Soekarno menyampaikan usulannya pada tanggal 1 Juni 1945 (hari terakhir Rapat BPUPKI)  dan mencari cari istilah untuk  menamakan rumusan  yang dikemukakannya.  Rumusan tersebut akhirnya  dinamakannya Pancasila.  Hal ini  dapat disimak sebagai berikut :

”Dasar-dasar Negara   telah saya usulkan . Lima bilangannya . Inikah Panca Dharma ? Bukan.  Nama Panca Dharma tidak tepat di sini . Dharma berarti kewajiban , sedang kita membicarakan Dasar . Saya senang kepada simbolik . Simbolik angka pula . Rukun Islam Lima jumlahnya . Jari kita lima setangan . Kita  mempunyai  panca indra . apa lagi yang lima bilangannya?”

Selanjutnya Ir. Soekarno mengatakan :

”Berhubung dengan itu, sebagaimana yang diusulkan  oleh beberapa pembicara-pembicara tadi, barang kali perlu diadakan nootmaatregel, peraturan bersifat sementara. Tapi dasarnya, isinya Indonesia merdeka yang kekal abadi. Menurut pendapat saya, haruslah Panca Sila. Sebagaimana dikatakan tadi, saudara-saudara memufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk weltanschauung itu, untuk membentuk Nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia, yang hidup di dalam peri kemanusiaan, untuk permufakatan, untuk sociale rechtvaardigheid, untuk ketuhanan ”.

Selanjutnya Ir. Soekarno mengatakan :

”Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh-puluh tahun,  diterima atau tidak  terserah saudara-saudara, tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf- seinsyafnya, bahwa tidak satu Weltaschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteite, jika tidak dengan perjuangan!”

Fakta sejarah ini mengatakan kepada kita bahwa pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 dinamakannya sebagai Pancasila yang kemudian nama ini digunakan sebagai nama untuk prinsip dasar bagi negara Indonesia Merdeka. Pidato Ir. Soekarno ini disampaikan pada hari  terakhir dari rapat BPUPKI  yang memberi masukan mengenai konsep Dasar Negara.

Dalam  rangkaian suatu Persidangan hari terakhir merupakan saat pengambilan keputusan, dimana semua ide, gagasan dan konsep yang dibahas akan dirumuskan untuk dijadikan suatu kesimpulan rapat. Dengan demikian, berarti pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni yang dengan jelas mengemukakan istilah Pancasila dan merupakan hari terakhir Rapat BPUPKI   menyimpulkan  Pancasila sebagai Dasar  Negara. Atas fakta sejarah ini tidak dapat dipungkiri bahwa Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945.

Pancasila sebagai dasar negara  kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Pancasila sebagai Dasar Negara  termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan sekalipun UUD 1945 diamandemen namun  Pembukaan UUD 1945 dimana termaktub Pancasila tidak ikut diamandemen.  Pancasila sebagai Dasar Negara merupakan hasil kesepakatan bersama para pendiri bangsa yang  sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia.

Sekalipun Pancasila telah dinyatakan sebagai Dasar Negara, tetapi mengenai Hari Lahir Pancasila sampai saat ini masih belum diperoleh kesepakatan. Ketika pimpinan MPR  mengirim surat  kepada Presiden  untuk meminta dikeluarkan Keppres yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dan penegasan empat pilar berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, maka  sensitivitas mengenai Hari Lahir Pancasila 1 Juni mencuat kembali.

Pancasila 1 Juni merupakan usulan Ir. Soekarno dalam Rapat BPUPKI mengenai Dasar Negara dan mendapat persetujuan peserta Rapat.

Hal ini dapat kita simak dari cuplikan pidato Ir. Soekarno :

”Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grond slag, mencari satu”Weltanschauung” yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang sdr. Sanoesi setujui, yang sdr. Abikoesno, yang sdr. Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui ”.

Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni sesungguhnya telah biasa diperingati oleh  berbagai golongan masyarakat.  Presiden SBY pernah menyampaikan Pidato  Peringatan ke 61 Hari Lahir Pancasila 1 Juni  2006 yang berisikan  sebagai berikut :

”Kita merasakan, dalam delapan tahun yang terakhir ini, di tengah-tengah gerak reformasi dan demokratisasi yang berlangsung di negeri kita, terkadang kita kurang berani, kita menahan diri, untuk mengucapkan kata-kata  semacam Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, Wawasan Kebangsaan, Stabilitas, Pembangunan, Kemajemukan dan lain-lain. Karena bisa-bisa dianggap tidak sejalan dengan gerak refomasi dan demokratisasi. Bisa–bisa dianggap tidak reformis ”.

Sekalipun melalui Keppres no.18 tahun 2008 ditetapkan   tanggal 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi,  maka dapat dipahami bahwa  pencanangan 18 Agustus sebagai Hari  Konstitusi adalah hari  dimana Pancasila diresmikan sebagai Dasar Negara yang  dimuat dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia (Pembukaan UUD 1945).

KESIMPULAN

Dari kronologis sejarah dan argumentasi akademis yang disampaikan diatas dapat dipahami bahwa  Pancasila sebagai konsep Dasar Negara  lahir pertama kali pada tanggal 1 Juni tahun 1945 dan pada tanggal 18 Agustus 1945 disahkan atau diresmikan sebagai  Dasar Negara sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UUD 1945 .

Pancasila sebagai sebuah konsep Dasar Negara tentu tidak lahir  pada saat disahkan. Hal ini mempertegas   bahwa 1 Juni adalah  Hari lahirnya Konsep Dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila dan  tanggal 18 Agustus 1945  hari pengesahan Pancasila sebagai Dasar Negara yang dimuat dalam konstitusi negara.  Dengan demikian kelahiran dan pengesahan Pancasila berada pada dua tanggal yang berbeda sehingga hari lahir Pancasila sesungguhnya  tidak perlu  diperdebatkan  lagi.

Dalam perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara  dewasa ini yang  patut dipersoalkan adalah pemahaman, penghayatan dan pelaksanaan Pancasila. Ideologi Pancasila yang diletakkan oleh pendiri bangsa ini  terkesan mulai dikaburkan bahkan ada yang ingin untuk menguburkan. Hal penting lainnya yang perlu dipikirkan bersama adalah revitalisasi ideologi Pancasila agar Pancasila  sebagai ideologi bangsa dapat menjiwai  pelbagai gerakan dan kehidupan politik serta kemasyarakatan bangsa Indonesia.

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

9 Responses

  1. infonya cukup membantu
    terima kasih :)

  2. Ini Sangat membantu,thank’s yahhh……

  3. thanks info ini sngat membantu sya dlam menyelasaikan tugas n klw bisa di perlengkap lagi

  4. Terima kasih info sangat membantu

  5. Padaa tanggal 30 meiii 1945 , Ada Kegiatan apaahh ?? yang lengkap dongg.. :(

  6. Informasi yang bagus. sangat bermanfaat dalam meluruskan sejarah , kami tunggu tulisan – tulisan berikutnya

    Salam Sukses

  7. in sangat membantu , mkasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*