Televisi bisa membuat anak bodoh, yang lebih bodoh lagi, kita yang tidak berbuat apa apa ….

kill your TV

kill your TV

Ekses kemajuan teknologi komunikasi terhadap perubahan sikap masyarakat sudah terbaca dengan jelas. Teknologi komunikasi yang telah melahirkan berbagai media baru seperti televisi, internet, face book, twitter, you tube dan lain-lain telah mempercepat sampainya informasi keberbagai penjuru dunia. Televisi yang secara terus menerus memberitakan tentang kekerasan, ketidak adilan yang dilakukan pihak penguasa terhadap kelompok yang lemah, tanpa disadari telah melakukan suatu pembentukan doktrin baru yang menulari pemikiran khalayak luas. Masyarakat yang sedang mengalami gonjang ganjing kehidupan dan berada dalam ketegangan dan kecemasan, jelas terpengaruh oleh doktrin baru yang terbawa media dan selanjutnya doktrin tersebut menunggangi nalurinya karena terlihat sebagai bagian dari program diri.

Paradigma media cetak dan media televisi berbeda. Media cetak bersifat statis dan media televisi sangat dinamis. Ketika televisi sangat berkembang seperti saat ini maka informasi membanjir dari segala penjuru dunia. Informasi itu bagaikan gelembung-gelembung sabun, yang satu belum sempat mengudara disusul dengan yang lainnya. Banjir informasi dengan pergerakan yang sangat cepat ini tidak mudah untuk dicerna dan rawan menyesatkan.

anti tv

anti tv

Ekses kemajuan teknologi Televisi pada anak sudah mulai merisaukan para orang tua. Anak dapat begitu terikat dengan televisi, bahkan seperti kecanduan. Efek kecanduan Televisi ini, hanyalah satu dari begitu banyak efek negative yang diberikan televisi. Televisi sangat menyerap banyak waktu anak-anak. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca dan mengerjakan PR sekolahnya digunakan untuk nonton televisi. Menurut suatu penelitian, anak-anak sekolah dasar yang menonton televisi lebih dari dua jam sehari berprestasi rendah di sekolah terutama kemampuan membaca.

Disamping itu, anak menjadi pasif dan tidak kreatif. Mereka kurang beraktivitas, tetapi hanya duduk di depan Televisi, dan melihat apa yang ada di Televisi. Anak menjadi pasif baik secara fisik maupun mental, karena memang orang yang menonton Televisi tidak perlu berbuat apa-apa, hanya duduk, mendengar dan melihat apa yang ada di Televisi. Kemampuan berpikir dan kreatifitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu lagi membayangkan sesuatu seperti halnya bila ia membaca buku atau mendengar musik. Hal lain yang menyertai kepasifan ini adalah anak cenderung jadi lebih gemuk, bahkan bisa overweight karena mereka biasanya menonton Televisi sambil makan kudapan (cemilan), terus menerus tanpa terasa.

American Academy of Pediatrics (AAP) dalam publikasi di jurnal ilmiahnya,mengeluarkan pernyataan bahwa anak di bawah 2 tahun tidak direkomendasikan untuk menonton Televisi. Sedangkan untuk anak yang berusia lebih tua, direkomendasikan batasan menonton Televisi hanya satu atau dua jam saja, dan yang ditonton adalah acara yang edukatif dan tidak menampilkan kekerasan. Anak – anak pada umumnya menyukai aksi – aksi kekerasan dalam film-film cartoon dan mempersonifikasikan dirinya seperti tokoh-tokoh superhero kesayangan mereka. Disini peran orang tua sangat diperlukan agar bisa meminimalkan aspek agresif si superhero dan memaksimalkan aspek kreatif serta menuntun anak kearah imajinasi yang potensial dan positif.

Satu lagi pengaruh buruk televisi bagi anak-anak yaitu masalah pengaruh iklan di televisi yang semakin bombastis. Ada begitu banyak iklan yang menawarkan berbagai barang, dari mainan anak, makanan, minuman, dan lain sebagainya. Iklan – iklan itu memberikan janji-janji kesenangan dan kebahagiaan keluarga yang akan diperoleh bila membeli produk tersebut. Ini secara tidak sadar, dapat menanamkan pada anak nilai-nilai konsumerisme dan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan sebuah keluarga diukur dari kemampuan memiliki produk terbaru yang ditawarkan. Sedangkan orang dewasa saja banyak terpengaruh oleh iklan-iklan yang ada di Televisi, apalagi dengan anak – anak yang masih kecil. Iklan di Televisi membuat anak konsumtif karena iklan itu merangsang demikian besar keinginan anak untuk membeli. Televisi memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menjerat dan membentuk penonton menjadi konsumtif.

Satu hal lagi yang juga sering terjadi, tetapi kali ini bukan efek pada anaknya secara langsung, tapi melalui orang tuanya. Kadang kala orang tua malas atau tidak bisa menghadapi anaknya yang maunya macam-macam, dan mereka menyuruh anaknya itu duduk manis menonton Televisi . Dengan menjadikan Televisi sebagai “Electronic babysitter”, akhirnya si anak menjadi berkurang waktunya untuk bersama orang tuanya, untuk belajar dan bersikap kreatif.

Televisi bisa membuat anak bodoh.

Lantas apa yang harus kita perbuat agar bangsa ini tidak melahirkan generasi bodoh, malas dan tidak kreatif ?

Pemerintah sebagai lembaga yang mengatur kebijakan public nampaknya sudah tahu dan sadar betul dengan efek negative yang ditimbulkan dari televisi. Berbagai aturan sudah ditetapkan, mulai dari pengawasan konten acara, jam tayang sampai ke materi iklan sebenarnya sudah diatur. Stasiun televisi, diwajibkan memberikan kode-kode tertentu yang memberikan tanda kesesuaian konten acara dengan umur pemirsanya, bahkan iklan untuk produk-produk tertentu seperti rokok dan miras, tidak diperbolehkan untuk menampilkan produk yang dijual dalam iklannya. Tetapi persoalannya adalah bahwa aturan yang ditetapkan ternyata tidak dapat meminimalisasi dampak negative yang ditimbulkan. Tidak tampilnya produk rokok, ternyata tidak menghambat pembentukan citra dari sebuah produk rokok. Kemajuan ilmu marketing dan Branding, justru memberikan jalan keluar bagi para produksen untuk menciptakan iklan-iklan kreatif dalam rangka pembentukan citra, yang ujung-ujungnya adalah keputusan membeli konsumen.

Tentu saja kita tidak bisa menahan arus globalisasi dunia yang merambat sangat cepat dan dashyat, yang salah satunya melalui televisi. Menuntut orang tua untuk mengawasi anak secara ketat, nampaknya juga bukanlah perkara mudah, karena tingginya aktifitas orang tua dalam mencari penghidupan, kekurangan waktu, dan tenaga sudah menjadi hal yang biasa kita alami.

uplug

uplug

Jalan keluar yang dapat dilakukan, adalah menyisihkan sedikit waktu dan tenaga kita, untuk sedikit peduli, membentuk kelompok-kelompok diskusi melalui alat-alat komunikasi yang canggih saat ini. Group di BBM, millis, blog, website, facebook dan twiiter. Ataupun media lain yang dapat digunakan. Lakukan gerakan untuk mendorong pemerintah, para legislator dan termasuk stasiun televisi, untuk secara aktif melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap konten televisi. Kalau di perlukan, para pemirsa dapat melakukan class action, yang menuntut agar stasiun televisi memberikan ganti rugi atas Nampak yang disebabkannya. Pertanyaan selanjutnya…. Siapa yang akan menjadi pioneer untuk mewujudkan wacana ini ? mungkin salah satu dari anda pembaca tulisan ini.

Ya , anda yang dari tadi baca tulisan ini, ayo buat group di facebook dan add sebanyak banyaknya. ayo tunggu apa lagi, kok malah benggong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*