Diskriminasi Pendidikan dapat lahirkan Radikalisme

Fenomena radikalisme yang menjangkiti  anak-anak muda dewasa ini telah menjadi  bahan perbincangan di dunia maya, melalui facebook, twitter dan blog kompasiana ini. Banyak analisis yang dilakukan  terhadap fenomena ini. Ada yang mengkajinya dari sudut psikologi, sosiologi, ideology  dan ada  yang menyimpulkan bahwa radikalisme dikalangan generasi muda adalah produk dari   kejenuhan yang terjadi di ranah politik dan sosial serta bosan terhadap ritorika  politik di ruang publik. Ada pula yang mengatakan bahwa radikalisme terjadi karena adanya kekosongan ideology. Dan  Ada  yang berpendapat bahwa radikalisme akan terus berlangsung selama akar permasalahannya tidak disentuh. Akarnya  bersifat abstrak karena tertanam dalam alam pikiran seseorang atau kelompok.

Sikap radikal dapat  bermuara kepada kejahatan. Dalam pandangan M. Ghandi, kejahatan di dunia dapat dibedakan atas kejahatan fisik dan kejahatan non fisik. Kekejaman fisik umpamanya terorisme  dan perang, sementara kekejaman non fisik berupa penyebaran paham kebencian, fitnah dan provokasi. Kejahatan pikiran ini sangat berbahaya karena mempengaruhi lingkungan dan dapat menular secara luas ke benak orang lain sehingga  mempengaruhi sikap dan tindakan sosial.

diknasDisisi lain, ada pula yang berpendapat  bahwa informasi terus menerus  tentang kekerasan, ketidak adilan serta korupsi  yang dilakukan oleh elite politik di negeri ini,  melahirkan paham kebencian dan sikap   radikal dari masyarakat terutama anak-anak muda. Ketika kebencian ini masuk ke dalam kesadaran manusia, kebencian itu akan berkembang dan beranak pinak, karena  suatu  informasi yang tersimpan di benak seseorang dan diulang  terus menerus,  akan merebut kesadaran si pemilik benak. Itulah sebabnya mengapa suatu aliran keras terus diproduksi dan diterima oleh orang – orang walaupun mereka sadar akan bahayanya.

Mengatasi masalah  radikalisme ini, dunia pendidikan harus bicara. Pendidikan harus meluaskan wawasan   anak, sehingga dapat  melihat suatu kebenaran dari berbagai perspektif. Pendidikan harus meluaskan berbagai wawasan anak didik seperti,    wawasan spiritual, sebagai landasan etik, moral, religius yang mendasari pengembangan profesi, wawasan akademis, sebagai sumber Instrumen bagi pembaharuan dan pencerahan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia wawasan kebangsaan, yang menumbuhkan kesadaran nasionalisme sehingga dalam pergaulan antarbangsa tetap mengedepankan jati diri dan ideologinya sendiri serta wawasan Perubahan (Mondial), yang menyadarkan bahwa dalam proses dialektika senantiasa berhadapan dengan perubahan, yang harus dapat dijadikan peluang untuk berkarya.

Namun untuk mencapai hal bukan perkara mudah, ada berbagai kendala yang menghadang yang salah satunya adalah  diskriminasi dalam pendidikan. Kebijakan  di bidang pendidikan, utamanya  antara pendidikan Islam dan pendidikan umum sangat diskriminatif. Pendidikan Islam diselenggarakan oleh  Kementrian  Agama sangat tertinggal bila dibandingkan dengan pendidikan umum yang diselengarakan oleh  Kementrian  Pendidikan Nasional.   Sekolah –  sekolah pendidikan   Islam, seperti madrasah dan pesantren  banyak yang  masih berstatus swasta dan  kurang terkontrol      sehingga  kualitas  pendidikan sangat rendah sementara  sarana dan prasarana  pendidikan  menyedihkan. Pendidikan Islam,  merasa dianaktirikan  baik dari segi alokasi anggaran, ketersediaan tenaga pengajar yang berkualitas, buku-buku  serta sarana dan prasarana pendidikan lainnya.

Sudah menjadi tradisi sebagian orang yang berada dipedesaan untuk cenderung memasukan anaknya kedalam pesantren sebagai kawah cadra dimuka bagi pendidikan anak. Karena hal tersebut sudah dilakukan secara turun temurun, dan sudah menjadi sebuah mindset bahwa pendidikan dipesantren lebih baik dibandingkan sekolah umum yang sudah digratiskan oleh pemerintah. Karena pesantrenlah  yang tersedia dipelosok dan menjadi pioneer bagi pendidikan masyarakat pedesaan.

Kebijakan diskriminatif di bidang pendidikan ini  dapat merugikan sumber daya manusia kita ke depan. Generasi muda yang tidak terdidik dengan baik akan menjadi beban negara. Disamping itu, diskriminasi pendidikan melahirkan kecemburuan social, dan berangkat dari kecemburuan social ini tumbuh  kebencian. Bila kebencian menjadi suatu paham akan melahirkan kelompok-kelompok radikal yang menambah beban kerawanan social di masa depan.

Tidak dapat ditepis juga sebuah kenyataan bahwa para radikal yang ada dinegeri ini, tumbuh dan berkembang dari sekolah-sekolah agama, madrasah, ataupun pesantren yang berada dipelosok negeri. Lantas apa argument untuk tidak memperhatikan pendidikan yang masih berada dibawah naungan departemen agama ini.

Sudah saatnya kebijakan pendidikan ini dikaji ulang, dan  diskriminasi pendidikan harus dihentikan. Sesungguhnya, bangsa ini memerlukan penyelenggaraan pendidikan Islam yang    baik dan   berkualitas , karena dari bidang pendidikan ini diharapkan pendidikan kharakter dan akhlak generasi muda  untuk membangun bangsa ini ke depan.

S E M O G A !

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Pendidikan memang tidak bebas nilai dan tidak juga bebas budaya. Pendidikan formal menjadi bagian yang sangat politis karena pendidikan bukan saja melibatkan semua lapisan pemerintah, tetapi juga berpengaruh dalam pembentukan warga sebuah Negara. Isu-isu pendidikan nasional yang sangat actual adalah rendahnya mutu pendidikan. Hal ini disebabkan karena perhatian pemerintah sangat rendah terhadap keberlangsungan proses pendidikan. Walau secara konstitusional komitmen nasional kepada dunia pendidikan sangat tinggi. Akan tetapi realitas di lapangan tidak demikian.

    makalah lainnya bisa lihat di Aneka Ragam Makalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*