Optimalkan perjuangan perempuan dengan Internet

Diawali dengan peluncuran satelit  pada tahun 1957, maka perkembangan teknologi berjalan dengan pesat. Bahkan  Ledakan teknologi komunikasi informasi telah menyebabkan seluruh dunia dilanda   perubahan yang fundamental  dan bersifat revolusioner. Pergolakan yang sedang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya dan Negara lainnya dapat dilihat sebagai akibat dari ledakan teknologi informasi komunikasi tersebut. Pergolakan di  Timur Tengah ini pada tahun 1998 telah dialami pula oleh  bangsa Indonesia.

Dalam hubungannya dengan perempuan politik adalah  sekalipun teknologi informasi komunikasi telah demikian maju,  tetapi masih sedikit perempuan yang mengakses internet untuk mengkampanyekan diri, membangun jejaring sosia agar dapat menduduki posisi sebagai anggota legislatif. Pada Pemilu 2009 yang lalu, walaupun  masih dengan ketetapan   affirmative action, ( kuota 30% untuk perempuan),  perempuan hanya berhasil meraih 18,4 % saja kursi di DPR RI atau hanya 100 orang anggota DPR RI  perempuan.

Menelisik  penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Politik (Puskapol)  Universitas Indonesia ,  perempuan yang mampu merih kursi pada Pemilu 2009 yang lalu, adalah perempuan yang hidupnya mapan, memiliki hubungan kekeluargaan dengan pimpinan partai politik  atau hubungan dekat dengan pejabat tinggi di pemerintahan . Sehubungan ini, maka  ada yang menafsirkan bahwa perempuan –perempuan ini   masuk parlemen hanya mencari ruang bagi ekspresi diri sendiri, belum didorong oleh perjuangan untuk  meningkatkan pemberdayaan perempuan.

Membaca kondisi ini, terpaksa juga kita mengulang- ulang alasan usang,  bahwa perbedaan perempuan dan laki -laki hanyalah  perbedaan biologis bukan fungsi social-politik. Karena selama ini kebudayaan dibangun oleh laki-laki, maka norma dan peraturan disusun berdasarkan kepentingan laki-laki . Perempuan menjadi bagian dari laki-laki bukan merupakan mitra sejajar. Akibatnya peran politik perempuan belum optimal.

Belum optimalnya peran politik perempuan inilah fokus perempuan ke depan. Dengan kemajuan teknologi  komunikasi internet peran politik perempuan dapat lebih dioptimalkan.Dalam kemajuan teknologi komunikasi sekarang ini konsep ruang dan waktu telah berubah. Melalui perangkat internet seperti  Website, facebook, twitter, blog dan lain-lainnya   jejaring social dapat diperluas dalam waktu yang singkat. Apalagi sekarang ini,  perkawinan Ponsel dan internet, satu orang dapat menjangkau  banyak orang diberbagai tempat . Perempuan politik, melalui internet dapat membangun komunitas di dunia maya dan dapat menyampaikan gagasan –gagasan politiknya agar dipahami oleh masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterwakilan perempuan di Parlemen.

Perempuan masuk parlemen ( legislator)  tidak hanya dapat  dilihat sebagai bagian dari pemberdayaan  perempuan dan kesetaraan gender, tetapi juga memanggul misi suci yaitu  untuk memperbaiki moral dan etika politik bangsa ini.   Kehidupan Politik kita  dewasa ini hanyalah urusan pergulatan para elit dalam mepertahankan kekuasaannya, sehingga berbagai kinerja politik yang tidak santun dan penuh manipulasi menguap kepermukaan. Menjalankan politik dengan “memeras” lawan telah mejadi hal biasa dan untuk mencapai sesuatu target politik berbagai rekayasa politik dilakukan.

Perilaku elit politik   dalam mengejar ambisi-ambisi politiknya sangat memprihatinkan. Mereka  tidak segan-segan mendesak lawan-lawannya ke sudut mati atau menggiring pesaing-pesaingnya kejurang penderitaan yang dalam. Sikap mementingkan diri dan kelompok  sangat menonjol sehingga melahirkan berbagai konflik , hingga aksi kekerasan massa.

Sekarang ini orang politik (baca politisi laki-laki)  banyak yang bersikap  munafik dan pembohong,  kata tidak sesuai dengan perbuatan. Secara moral, munafik dan berbohong adalah sikap negative yang muaranya adalah merusak sendi-sendi keadilan. Disamping itu, sikap bohong akan membuat masyarakat bingung, karena mana yang  sungguhan  dan mana yang      rekayasa sulit dibedakan. Khabar kabur berseliweran dalam masyarakat.  Apa lagi  dalam  era branding ini,orang politik berebut mengejar citra,  berbagai fakta  didramatisasi  agar tampak menyentuh, walaupun menabrak tembok-tembok  logika. Hal ini meyebabkan  hancurnya Social trust.

Perempuan politik  harus menyadari kondisi ini. Kehidupan   politik  sangat   kompetitif, dan telah meninggalkan moral dan etika.   Menghadapi dunia yang kompetitif ini perempuan haruslah melakukan penguatan diri baik secara personal maupun secara kelompok. Untuk penguatan diri perempuan,  teknologi komunikasi internet   dapat  memberi berbagai kemudahan.   Perempuan politik, melalui internet dapat membangun komunitas di dunia maya dan dapat menyampaikan gagasan – gagasan politiknya, dengan  konten dan strategi  yang tepat  agar dipahami oleh masyarakat. Dengan usaha ini diharapkan  dapat meningkatkan keterwakilan perempuan di Parlemen.

S e m o g a !

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*